Konsumsi Antibiotik Sembarangan Bisa Tingkatkan Risiko Kegemukan pada Anak

Konsumsi Antibiotik Sembarangan Bisa Tingkatkan Risiko Kegemukan pada Anak

- detikHealth
Selasa, 28 Okt 2014 14:34 WIB
Konsumsi Antibiotik Sembarangan Bisa Tingkatkan Risiko Kegemukan pada Anak
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Saat si kecil sakit, memang orang tua bisa panik dan khawatir. Tak jarang, antibiotik yang kerap dianggap sebagai 'obat dewa' pun dijadikan andalan. Tapi jangan salah, penggunaan antibiotik yang tak bijak bisa membuat anak berisiko obesitas lho, Bunda.

Berdasarkan studi yang dilakukan ahli mikrobiologi di New York University, Martin Blaser, ia menemukan konsumsi antibiotik sembarangan pada anak di bawah usia 6 bulan bisa membuat mereka obesitas di usia 7 tahun. Perlu diingat tak hanya di bawah usia 6 bulan saja, selamanya pun penggunaan antibiotik tak boleh sembarangan.

Dalam studinya, Blaser mengadakan pengamatan terhadap tikus percobaan yang disuntikkan antibiotik di awal kehidupannya. Terlihat jelas, di kemudian hari 25% tikus mengalami kegemukan. Hal ini menurut Blaser karena penggunaan antibiotik yang tidak sesuai bisa mematikan bakteria baik dalam tubuh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di tubuh manusia pun ada sekitar 100 triliun bakteri yang hidup. Jika penggunaan antibiotik semaunya, maka bakteri baik bisa mati dan bakteri jahat resisten. Hal ini berpengaruh juga pada sistem pencernaan yang mengakibatkan anak mengalami kegemukan," jelas Blaser.

Kalau begitu, haruskah orang tua kekeuh tidak memberi antibiotik ketika si kecil sakit? "Tentu tidak, anak boleh mendapat antibiotik selama dalam pengawasan dokter dan setelah ditegakkan diagnosis bahwa ia memang terinfeksi bakteri," tutur Naveed Sattar, profesor kedokteran metabolik di Glasgow University.

Blaser menambahkan, seperti saat anak demam sebaiknya tunggu 2-3 hari sebelum memutuskan anak dibawa ke dokter. Sebab, bisa saja demam yang timbul akibat infeksi virus, bukan bakteri sehingga tidak memerlukan antibiotik. Di Indonesia, pada 16 Oktober lalu pun sudah dibentuk Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) guna mengatasi masalah penggunaan antibiotik yang kurang bijak.

dr Purnamawati, SpA, selaku anggota Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba mengungkapkan berdasarkan penelitian, anak adalah populasi yang paling terpapar penggunaan antibiotik. Sudah pasti, penyebabnya karena mereka sering sakit.

"Dalam setahun balita bisa 8-12 kali sakit. Tapi kan sakit ringan seperti demam, batuk pilek, diare, muntah. Disebut ringan sifatnya self limiting, sembuh sendiri. Penyebabnya juga virus dan antibiotik tidak bisa menyembuhkan," kata dr Purnamawati beberapa waktu lalu dan ditulis pada Selasa (28/10/2014).

(rdn/vit)

Berita Terkait