Berdasarkan studi yang dilakukan ahli mikrobiologi di New York University, Martin Blaser, ia menemukan konsumsi antibiotik sembarangan pada anak di bawah usia 6 bulan bisa membuat mereka obesitas di usia 7 tahun. Perlu diingat tak hanya di bawah usia 6 bulan saja, selamanya pun penggunaan antibiotik tak boleh sembarangan.
Dalam studinya, Blaser mengadakan pengamatan terhadap tikus percobaan yang disuntikkan antibiotik di awal kehidupannya. Terlihat jelas, di kemudian hari 25% tikus mengalami kegemukan. Hal ini menurut Blaser karena penggunaan antibiotik yang tidak sesuai bisa mematikan bakteria baik dalam tubuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalau begitu, haruskah orang tua kekeuh tidak memberi antibiotik ketika si kecil sakit? "Tentu tidak, anak boleh mendapat antibiotik selama dalam pengawasan dokter dan setelah ditegakkan diagnosis bahwa ia memang terinfeksi bakteri," tutur Naveed Sattar, profesor kedokteran metabolik di Glasgow University.
Blaser menambahkan, seperti saat anak demam sebaiknya tunggu 2-3 hari sebelum memutuskan anak dibawa ke dokter. Sebab, bisa saja demam yang timbul akibat infeksi virus, bukan bakteri sehingga tidak memerlukan antibiotik. Di Indonesia, pada 16 Oktober lalu pun sudah dibentuk Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) guna mengatasi masalah penggunaan antibiotik yang kurang bijak.
dr Purnamawati, SpA, selaku anggota Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba mengungkapkan berdasarkan penelitian, anak adalah populasi yang paling terpapar penggunaan antibiotik. Sudah pasti, penyebabnya karena mereka sering sakit.
"Dalam setahun balita bisa 8-12 kali sakit. Tapi kan sakit ringan seperti demam, batuk pilek, diare, muntah. Disebut ringan sifatnya self limiting, sembuh sendiri. Penyebabnya juga virus dan antibiotik tidak bisa menyembuhkan," kata dr Purnamawati beberapa waktu lalu dan ditulis pada Selasa (28/10/2014).
(rdn/vit)











































