Ada yang Aneh pada Telinga Anda? Mungkin Ini Artinya

Ada yang Aneh pada Telinga Anda? Mungkin Ini Artinya

- detikHealth
Selasa, 11 Nov 2014 12:04 WIB
Ada yang Aneh pada Telinga Anda? Mungkin Ini Artinya
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Setelah rambut, bibir, hingga kondisi kotoran tubuh, kini giliran telinga yang bisa jadi 'alat teropong'. Organ ini ternyata tak hanya dapat dipakai sebagai alat dengar, tapi juga bisa dijadikan penunjuk utama kondisi kesehatan seseorang.
 
Berikut bentuk-bentuk keanehan pada telinga yang bisa dijadikan petunjuk adanya gangguan kesehatan, seperti dikutip detikHealth dari Medical Daily, Selasa (11/11/2014).

1. Daun kuping melipat

Ilustrasi (Foto: Getty Images)
Bila daun telinga seseorang menekuk dalam posisi diagonal, itu tandanya ia berisiko mengalami gangguan jantung koroner. Setidaknya hal inilah yang ditemukan sebuah studi yang dipublikasikan dalam British Heart Journal di tahun 1989.
 
Meskipun peneliti tak mengetahui bagaimana cara menjelaskan keterkaitan antara keduanya, mereka menduga perubahan yang terjadi pembuluh darah di telinga dapat meniru perubahan serupa di dalam pembuluh darah yang ada di seputaran jantung.

Lipatan pada daun telinga juga merupakan salah satu gejala sindrom Beckwith-Wiedermann, yang tergolong sebagai sindrom pertumbuhan yang berlebihan (overgrowth). Bayi yang mengalami kondisi ini cenderung memiliki berat badan yang lebih besar daripada bayi seumurannya, bahkan terus tumbuh seperti itu, melebihi teman-temannya hingga dewasa.
 

2. Kotoran telinga

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Kotoran telinga bukan sekadar limbah dari tubuh yang dikeluarkan lewat telinga. Namun sebuah studi yang dipublikasikan The FASEB Journal di tahun 2009 menemukan varian gen yang diberi nama ABCC11, yang erat kaitannya dengan risiko kanker payudara.

"Ternyata jenis kotoran yang mengandung gen ini memiliki kesamaan dengan gen penyebab bau tak sedap pada ketiak penderita kanker payudara," ungkap editor FASEB Journal, Dr Gerald Weissman.
 
Tapi bukan berarti orang-orang yang memiliki kotoran telinga basah atau bau ketiak yang menyengat pasti mengidap kanker payudara lho. Hanya saja kotoran telinga dapat dijadikan petunjuk adanya peningkatan risiko kanker pada orang-orang tertentu, itu pun bila dikombinasikan dengan faktor kanker lainnya.

3. Telinga memerah

Ilustrasi (Foto: Getty Images)
Saat memendam amarah, terkadang warna kuping kita akan berubah menjadi kemerahan. Namun bila telinga tiba-tiba memerah padahal Anda tidak sedang marah besar, maka itu bisa menjadi gejala kekurangan hormon adrenalin.
 
Bila tak segera ditangani, kondisi ini dapat mengakibatkan tekanan darah rendah ekstrim (hipotensi), penurunan berat badan dan gagal ginjal.

Di sisi lain, daun telinga yang memerah juga menjadi penanda Red Ear Syndrome. Menurut sebuah artikel dalam Journal of Headache, gejalanya adalah warna salah satu atau kedua telinga menjadi sangat merah dan bila dipegang akan terasa panas. Namun gangguan ini terbilang jarang terjadi.

4. Telinga berdenging

Ilustrasi (Foto: Getty Images)
Ketika dari telinga muncul suara-suara seperti berdenging, mendesis, berkicau, berdengung, menderu atau bersiul, biasanya ini ada kaitannya dengan tinnitus. Berdasarkan keterangan dari Harvard Medical School Harvard Health Publications, suara-suara ini muncul dari salah satu atau dua telinga sekaligus, terutama bila Anda baru saja menonton pertandingan olahraga atau konser.

Namun bila gejala ini tak kunjung hilang hingga lebih dari enam bulan, ini artinya tinnitusnya sudah kronis.

5. Telinga kecil

Ilustrasi (Foto: Getty Images)
Orang yang memiliki daun telinga yang kecil mungkin terlihat menarik. Namun mereka juga rentan mengalami eksim dan gangguan pada ginjal.

"Makin kecil telinganya, maka ear canal-nya juga akan makin kecil sehingga risiko eksimnya malah makin besar. Ini karena ear canal dilapisi oleh kulit, dan sama seperti kulit di bagian luar tubuh, ini akan mengelupas, sehingga bila lubangnya kecil, serpihan ini bisa menyumbat telinga, bahkan meradang," terang George Murty, konsultan THT dari University Hospitals Leicester.

Murty menambahkan letak daun telinga yang lebih rendah dari mata bisa mengindikasikan masalah pada organ lain, yakni ginjal.
Halaman 2 dari 6
Bila daun telinga seseorang menekuk dalam posisi diagonal, itu tandanya ia berisiko mengalami gangguan jantung koroner. Setidaknya hal inilah yang ditemukan sebuah studi yang dipublikasikan dalam British Heart Journal di tahun 1989.
 
Meskipun peneliti tak mengetahui bagaimana cara menjelaskan keterkaitan antara keduanya, mereka menduga perubahan yang terjadi pembuluh darah di telinga dapat meniru perubahan serupa di dalam pembuluh darah yang ada di seputaran jantung.

Lipatan pada daun telinga juga merupakan salah satu gejala sindrom Beckwith-Wiedermann, yang tergolong sebagai sindrom pertumbuhan yang berlebihan (overgrowth). Bayi yang mengalami kondisi ini cenderung memiliki berat badan yang lebih besar daripada bayi seumurannya, bahkan terus tumbuh seperti itu, melebihi teman-temannya hingga dewasa.
 

Kotoran telinga bukan sekadar limbah dari tubuh yang dikeluarkan lewat telinga. Namun sebuah studi yang dipublikasikan The FASEB Journal di tahun 2009 menemukan varian gen yang diberi nama ABCC11, yang erat kaitannya dengan risiko kanker payudara.

"Ternyata jenis kotoran yang mengandung gen ini memiliki kesamaan dengan gen penyebab bau tak sedap pada ketiak penderita kanker payudara," ungkap editor FASEB Journal, Dr Gerald Weissman.
 
Tapi bukan berarti orang-orang yang memiliki kotoran telinga basah atau bau ketiak yang menyengat pasti mengidap kanker payudara lho. Hanya saja kotoran telinga dapat dijadikan petunjuk adanya peningkatan risiko kanker pada orang-orang tertentu, itu pun bila dikombinasikan dengan faktor kanker lainnya.

Saat memendam amarah, terkadang warna kuping kita akan berubah menjadi kemerahan. Namun bila telinga tiba-tiba memerah padahal Anda tidak sedang marah besar, maka itu bisa menjadi gejala kekurangan hormon adrenalin.
 
Bila tak segera ditangani, kondisi ini dapat mengakibatkan tekanan darah rendah ekstrim (hipotensi), penurunan berat badan dan gagal ginjal.

Di sisi lain, daun telinga yang memerah juga menjadi penanda Red Ear Syndrome. Menurut sebuah artikel dalam Journal of Headache, gejalanya adalah warna salah satu atau kedua telinga menjadi sangat merah dan bila dipegang akan terasa panas. Namun gangguan ini terbilang jarang terjadi.

Ketika dari telinga muncul suara-suara seperti berdenging, mendesis, berkicau, berdengung, menderu atau bersiul, biasanya ini ada kaitannya dengan tinnitus. Berdasarkan keterangan dari Harvard Medical School Harvard Health Publications, suara-suara ini muncul dari salah satu atau dua telinga sekaligus, terutama bila Anda baru saja menonton pertandingan olahraga atau konser.

Namun bila gejala ini tak kunjung hilang hingga lebih dari enam bulan, ini artinya tinnitusnya sudah kronis.

Orang yang memiliki daun telinga yang kecil mungkin terlihat menarik. Namun mereka juga rentan mengalami eksim dan gangguan pada ginjal.

"Makin kecil telinganya, maka ear canal-nya juga akan makin kecil sehingga risiko eksimnya malah makin besar. Ini karena ear canal dilapisi oleh kulit, dan sama seperti kulit di bagian luar tubuh, ini akan mengelupas, sehingga bila lubangnya kecil, serpihan ini bisa menyumbat telinga, bahkan meradang," terang George Murty, konsultan THT dari University Hospitals Leicester.

Murty menambahkan letak daun telinga yang lebih rendah dari mata bisa mengindikasikan masalah pada organ lain, yakni ginjal.

(lil/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads