Studi: Banyak Anak Tak Lantas Banyak Rezeki, karena Bikin Jantung Ibu Merugi

Studi: Banyak Anak Tak Lantas Banyak Rezeki, karena Bikin Jantung Ibu Merugi

- detikHealth
Jumat, 21 Nov 2014 14:38 WIB
Studi: Banyak Anak Tak Lantas Banyak Rezeki, karena Bikin Jantung Ibu Merugi
Ilustrasi (Foto: Getty Images)
Chicago - Sebagian masyarakat di Indonesia masih percaya bahwa semakin banyak keturunan yang dimiliki, maka berkah rezeki pun akan melimpah. Akan tetapi berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika, ibu yang terlalu sering melahirkan, jantungnya justru berisiko.

Peneliti mengambil kesimpulan seperti ini setelah mengamati 855 wanita keturunan Spanyol atau Hispanik yang tinggal di kota-kota seperti Chicago, Miami, San Diego dan New York. Sebagian besar usia responden adalah 45 tahun.

Fokus pengamatan sengaja ditujukan pada wanita Hispanik karena frekuensi kehamilan dari kelompok etnis ini cukup tinggi bila dibandingkan dengan etnis lain. Wanita etnis lain rata-rata hanya punya 2-3 anak, tapi wanita keturunan Spanyol biasanya memiliki lima anak hingga lebih.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Benar saja, ternyata wanita yang mempunyai lima anak atau lebih berisiko tiga kali lebih besar mengalami gangguan jantung tertentu yang biasa disebut dengan 'disfungsi diastolik' ketimbang wanita yang tak pernah melahirkan atau memiliki anak sama sekali.

'Disfungsi diastolik' merupakan kondisi di mana performa jantung menurun, terutama pada saat fase relaksasi. Masalahnya, bila ini dibiarkan si ibu bisa-bisa mengalami gagal jantung. Tak tanggung-tanggung, risiko 'disfungsi diastolik' pada wanita dengan anak lebih dari lima besarnya mencapai 85 persen. Untuk yang anaknya 2-4, risikonya sebesar 60 persen.
 
"Agar bisa mendukung janin selama masa kehamilan, maka sistem kardiovaskular di tubuh ibu harus mengalami perubahan besar-besaran. Di antaranya penebalan otot jantung, yang bisa berakibat pada kenaikan massa jantung hingga 50 persen, serta kenaikan curah jantung (cardiac output) dan detak jantung," jelas Dr Shivani Aggarwal dari Wake Forest School of Medicine, Winston-Salem, Carolina Utara.

Sebenarnya, lanjut Aggarwal, perubahan-perubahan ini bersifat sementara. Hanya saja bila si wanita terlalu sering mengandung, maka perubahan tersebut menjadi bersifat permanen.
 
"Pada wanita yang tidak punya anak saja, risiko 'disfungsi diastoliknya' masih ada, bahkan sampai 50 persen. Kami sendiri tak menyangka," imbuhnya.
 
Peneliti makin yakin ketika menemukan 27 persen responden mengonsumsi obat penurun tekanan darah, lalu 25 persen responden ternyata mengidap diabetes dan 42 persen lainnya pra-diabetes. Sebab baik hipertensi maupun diabetes juga tergolong sebagai faktor risiko dari 'disfungsi diastolik' dan gagal jantung.

"Setidaknya dokter bisa mengantisipasi mengantisipasi kondisi 'disfungsi diastolik' pada wanita dari jumlah anak yang mereka punyai, sehingga kemudian tahu apa yang harus dilakukan," tutup Aggarwal seperti dikutip dari Livescience, Jumat (21/11/2014).

(lil/vit)

Berita Terkait