Seperti studi yang dilaporkan Clinical Pediatrics, kecelakaan anak yang berkaitan dengan mainan meningkat hampir 40% di Amerika Serikat. Dikatakan ketua peneliti, Dr Gary Smith, kondisi ini juga bisa dialami anak-anak di negara lain.
"Seringkali angka tersebut dianggap remeh, terutama bagi orang tua. Untuk itu mulai saat ini waktunya kita bertindak untuk memberikan mainan yang tepat sekaligus aman untuk si kecil," tegas Dr Gary yang juga menjabat sebagai direktur Center for Injury Research and Policy di Nationwide Children's Hospital.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk balita, mainan dengan beragam bentuk bahkan benda di sekitar yang dijadikan mainan bisa memicu cedera. Terutama anak di bawah usia 3 tahun, tersedak menjadi kasus utama cedera akibat mainan.
Sementara untuk anak berusia di atas 5 tahun, cedera lebih berkaitan dengan proses ia menggunakan mainannya, misalkan saja skuter yang berisiko tinggi membuat anak jatuh atau terkilir. Apalagi ketika temannya menggunakan skuter, anak bisa berisiko tertabrak skuter tersebut.
"Pastikan anak tidak bermain sepeda atau skuter di jalan besar dan jika Anda membelikannya skuter, sekaligus dengan helmnya. Untuk anak balita, jangan berikan mainan yang bisa terbelah atau terdiri dari bagian kecil agar tidak tertelan oleh anak," pesan Dr Smith, dikutip dari CNN, Sabtu (6/12/2014).
Ia juga mengingatkan agar orang tua membelikan mainan anaknya di tempat yang resmi atau minimal mainan berlogo standar nasional atau internasional. Hal ini berguna untuk mencegah adanya paparan bahan berbahaya seperti cat berbahan timbal atau BPA yang berbahaya bagi anak.
"Jangan berikan pula mainan pada anak jika memang usianya belum mencukupi. Jangan berikan mainan dengan partikel baterai atau magnet karena sangat berbahya jika sampai tertelan. Paling penting, terus awasi anak ketika bermain. Sebab, sebelum usia 7-8 tahun anak belum mandiri untuk bermain," pungkas Dr Smith.
(rdn/ajg)











































