dr Tjahjono D Ghondowiarjo, SpM, PhD, Ketua Kolegium Opthalmologi Indonesia (KOI) mengatakan bahwa sangat sulit mencari donor kornea mata anak. Tak hanya dari donor lokal, di luar negeri pun ternyata kesulitan itu tetap terjadi.
"Donor kornea dewasa kan istilahnya masih bisa didapat walau sedikit. Karena sebelum meninggal orang tersebut sudah setuju untuk korneanya di donorkan. Tapi bagi pasien anak sangat sulit karena banyak orang tua yang tidak tega atau enggan melepaskan anaknya walaupun hanya kornea," tutur dr Tjahjono ketika ditemui di Jakarta Eye Center Kedoya, Jl Panjang, Kedoya, Jakarta Barat, seperti ditulis Jumat (9/1/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal menurut ahli mata kenamaan asal Amerika Serikat, Prof Anthony J Aldave, MD, donor kornea mata anak-anak merupakan aset yang berharga. Sebabnya, operasi transplantasi yang dilakukan pada anak-anak memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi dan risiko penolakan yang lebih rendah.
"Semakin muda semakin cepat mata pasien anak untuk pulih. Risiko tubuh untuk menolak organ donor pun semakin kecil," ungkap Prof Aldave.
Meski begitu, ia sependapat dengan dr Tjahjono bahwa donor kornea mata anak memang sulit dicari. Namun promosi dan pemberian informasi terkait pentingnya donor kornea anak harus tetap ditingkatkan.
Menurut Prof Aldave, orang tua yang mau mendonorkan kornea mata anaknya yang sudah meninggal bisa dianggap sebagai pahlawan. Dalam artian, mereka dapat memberikan manfaat bagi anak-anak lain yang memang membutuhkan donor kornea untuk dapat melihat.
"Saya kira orang tua yang mau mendonorkan kornea mata anaknya adalah pahlawan. Bayangkan betapa bahagianya anak-anak lain yang mengalami kebutaan dan akhirnya dapat melihat berkat donor kornea dari anak lainnya," pungkasnya.
(rsm/up)











































