Ada Riwayat Lumpuh Akibat Penyakit Genetik, Pasti Menurun ke Anak?

Ada Riwayat Lumpuh Akibat Penyakit Genetik, Pasti Menurun ke Anak?

- detikHealth
Jumat, 23 Jan 2015 17:59 WIB
Ada Riwayat Lumpuh Akibat Penyakit Genetik, Pasti Menurun ke Anak?
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Ayah dan kedua kakak Ridwan Gunawan (11), bocah kelas 5 SD asal Sumedang mengalami kelumpuhan akibat gangguan saraf hingga sulit berjalan dan bicara. Pemeriksaan dokter pada tahun 2013 pun menunjukkan keluarga Ridwan memang memiliki riwayat lumpuh secara genetik.

Oleh sebab itu, Ridwan yang bercita-cita menjadi guru tersebut juga khawatir jika kondisi yang dialami ayah dan kakaknya pun ia alami. Menanggapi hal ini, Prof Dr dr Moh Hasan Machfoed, SpS(K), MS menuturkan belum tentu Ridwan 'mewarisi' apa yang dialami ayah dan kakaknya.

"Belum tentu. Perlu dilihat apakah memang dia mewarisi gen si ayah. Kalau gennya resesif, maka tidak menurun, sebaliknya kalau dominan baru bisa menurun," tutur Prof Hasan saat dihubungi detikHealth, Jumat (23/1/2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisinya berbeda jika memang gen penyebab kelumpuhan tersebut juga dimiliki oleh ayah dan ibunya sekaligus. Jika hanya salah satu pihak, maka perlu ditelisik lebih lanjut gen pembawa tersebut dominan atau resesif.

"Kalau ayah ibunya punya gen pembawa ya pasti menurun. Kalau hanya salah satu perlu dilihat apakah gen itu dominan atau resesif," lanjut pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PP Perdossi) ini.

Untuk deteksi dini penyakit keturunan seperti ini, lanjut Prof Hasan, bisa dengan pemeriksaan genetis. Tetapi, biayanya cukup mahal di mana bisa mencapai Rp 1,5 juta untuk pemeriksaan satu gen saja. Apalagi, prosesnya juga cukup rumit.

"Sulit dilakukan, kecuali untuk penelitian. Kita juga harus melihat banyak gen sampai ditemukan yang cocok dengan gen pembawa kelainan genetis itu. Lalu, kita lacak juga, apakah gen itu mengalami mutasi atau bagaimana, jadi cukup sulit memang," tutur Prof Hasan.

Lantas, apakah kejadian seperti ini kemungkinan akan 'diselidiki' lebih lanjut lewat penelitian?

"Tidak semua fenomena diikuti dengan penelitian. Umumnya baru dilakukan jika ada urgensinya dengan pengembangan ilmu pengetahuan. Kita kan juga tahu bahwa penelitian memerlukan biaya yang tidak sedikit," pungkas Prof Hasan.

(rdn/vit)

Berita Terkait