Oleh sebab itu, Ridwan yang bercita-cita menjadi guru tersebut juga khawatir jika kondisi yang dialami ayah dan kakaknya pun ia alami. Menanggapi hal ini, Prof Dr dr Moh Hasan Machfoed, SpS(K), MS menuturkan belum tentu Ridwan 'mewarisi' apa yang dialami ayah dan kakaknya.
"Belum tentu. Perlu dilihat apakah memang dia mewarisi gen si ayah. Kalau gennya resesif, maka tidak menurun, sebaliknya kalau dominan baru bisa menurun," tutur Prof Hasan saat dihubungi detikHealth, Jumat (23/1/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau ayah ibunya punya gen pembawa ya pasti menurun. Kalau hanya salah satu perlu dilihat apakah gen itu dominan atau resesif," lanjut pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PP Perdossi) ini.
Untuk deteksi dini penyakit keturunan seperti ini, lanjut Prof Hasan, bisa dengan pemeriksaan genetis. Tetapi, biayanya cukup mahal di mana bisa mencapai Rp 1,5 juta untuk pemeriksaan satu gen saja. Apalagi, prosesnya juga cukup rumit.
"Sulit dilakukan, kecuali untuk penelitian. Kita juga harus melihat banyak gen sampai ditemukan yang cocok dengan gen pembawa kelainan genetis itu. Lalu, kita lacak juga, apakah gen itu mengalami mutasi atau bagaimana, jadi cukup sulit memang," tutur Prof Hasan.
Lantas, apakah kejadian seperti ini kemungkinan akan 'diselidiki' lebih lanjut lewat penelitian?
"Tidak semua fenomena diikuti dengan penelitian. Umumnya baru dilakukan jika ada urgensinya dengan pengembangan ilmu pengetahuan. Kita kan juga tahu bahwa penelitian memerlukan biaya yang tidak sedikit," pungkas Prof Hasan.
(rdn/vit)











































