"Selama di Lampung ada riwayat 2 kali perdarahan hidung, dan 2 bulan terakhir buang air besarnya campur darah," kata Sutriyono (35), ditemui di RSCM, Selasa (10/2/2015).
Dikisahkan Sutriyono, kondisi Bayi Battar saat ini cukup memprihatinkan. Perutnya semakin membesar, tampak kesakitan dan sering mengalami sesak napas. Tim dokter masih melakukan observasi dengan USG (Ultra Sonografi) dan tes darah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Mengenal Atresia Bilier, Penyakit Hati yang Dialami Bayi Salma
Dugaan atresia bilier bermula saat Bayi Battar masih berusia 1 bulan, saat tubuhnya tampak menguning. Tidak ada kecurigaan dari dokter umum yang pertama kali memeriksanya, dan baru dirujuk ke rumah sakit setelah diperiksakan ke seorang dokter spesialis anak.
Umur 2 bulan lebih 1 minggu, Bayi Battar diperiksa di RS Mitra Husada Pringsewu, kemudian dirujuk ke RS Urip Sumoharjo Lampung. Hasil pemeriksaan menunjukkan suspect atresia bilier sehingga Bayi Battar dirujuk lagi ke RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Dari RSPAD, langsung dirujuk ke RSCM.
"Sampai saat ini semua biaya pengobatan masih ditanggung. Tapi kalau nanti harus operasi, itu jelas di luar kemampuan saya," kata Sutriyono yang sehari-hari bekerja sebagai sopir truk fuso.
Baca juga: Deteksi Atresia Bilier: Periksa Warna Kuning di Kulit dan Feses Bayi
Slamet, relawan Sahabat Berbagi yang mendampingi Sutriyono mengatakan operasi transplantasi hati untuk atresia bilier membutuhkan biaya antara Rp 800 juta hingga Rp 1,5 miliar. Belum termasuk beberapa jenis obat dan susu formula khusus yang tidak ditanggung BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan.
(up/vit)











































