Kritik mendeskripsikan bahwa ide transplantasi kepala hanyalah murni fantasi, namun Dr Sergio Canavero bersikeras bahwa semua tehnik yang diperlukan sebetulnya sudah ada. Sudah 40 tahun yang lalu uji coba transplantasi kepala pada monyet dan tikus di Tionghoa dilakukan.
Baca juga: Selama 10 Jam, Pria 60 Tahun Ini Jalani Transplantasi 5 Organ Sekaligus
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Canavero sudah memiliki daftar panjang pasien potensial dan ia akan mengumumkan rencananya itu pada konferensi American Academy of Neurological and Orthopaedic Surgeons di bulan Juni 2015. Ia yakin prosedur yang bisa dilakukan paling cepat 2017 tersebut dapat menolong banyak pasien dengan masalah kelumpuhan atau kanker multiorgan.
Prosedur dari transplantasinya sendiri dijelaskan oleh Canavero bahwa ia akan menggunakan tubuh dari donor yang mengalami mati otak. Kepala penerima maupun tubuh donor yang telah dipisahkan dengan 'pisau tajam' akan ditempatkan pada cairan pendingin untuk mencegah kematian sel akibat kekurangan oksigen.
Kepala pasien akan disambungkan dengan tubuh donor dan jaringan saraf tulang belakang mereka akan disambungkan menggunakan bahan kimia bernama polyethylene glycol. Terakhir otot-otot serta pembuluh darah akan dijahit menjadi satu dan pasien ditempatkan dalam keadaan koma selama empat minggu sampai sambungan kepala dan tubuh pulih.
"Hal yang benar-benar menghalangi proyek ini adalah etikanya. Apakah operasi ini benar-benar boleh dilakukan atau tidak sama sekali? Tentunya akan ada banyak orang yang menentang hal ini," tutup Canavero.
Baca juga: Tranplantasi Jantung yang Diawetkan, Bisakah Sampai ke Indonesia?
(fds/up)











































