Bahkan sebuah survei mengungkap Candy Crush dimainkan oleh lebih dari 10 juta orang di penjuru dunia. Namun yang tak kalah menarik, permainan ini memiliki pengaruh langsung terhadap otak penggunanya.
Baru-baru ini, Adam Gazzaley, MD, PhD (University of California), David Greenfield, PhD (University of Connecticut School of Medicine), Petra Kottsieper, PhD (Philadelphia College of Osteopathic Medicine), dan Frank J Lee, PhD (Drexel University) mengungkap hasil penelitian yang mereka lakukan terhadap kondisi otak penggila Candy Crush.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apalagi dalam Candy Crush, ketika mereka berhasil menggabungkan tiga karakter menjadi satu baris, maka akan keluar suara-suara yang lucu. Suara-suara ini ternyata dapat mendorong agar seseorang tak berhenti memainkannya," terang peneliti.
Baca juga: Awas! Pada Anak-anak, Smartphone Lebih Nyandu Dibanding Komputer
Kedua, saat menang atau berhasil melewati satu level atau lebih, otak penggila Candy Crush juga akan melepaskan dopamine atau yang biasa disebut dengan 'hormon kebahagiaan'. Tak heran bila tiap kali sukses melewati level yang paling mudah sekalipun, seorang penggemar Candy Crush akan berteriak kegirangan.
Dopamine inilah yang ditengarai membuat seseorang ketagihan memainkan Candy Crush dimanapun dan kapanpun. "Sebab ketika mereka telah merasakan 'nikmatnya' efek dari pelepasan dopamine, mereka tentu ingin terus mendapatkannya, tak peduli dimanapun mereka berada," papar peneliti.
Kendati begitu, peneliti sepakat bila bermain Candy Crush hanya akan berdampak positif terhadap otak, terutama kemampuan untuk memecahkan masalah serta meningkatkan daya ingat jika dimainkan tak lebih dari 30 menit. Bila sudah berlebihan, seorang penggila Candy Crush takkan lagi bisa berpikir jernih.
Hal ini terlihat dari temuan ketiga yang didapatkan peneliti, yakni saat penggemar Candy Crush tak segan-segan mengeluarkan uang agar mereka tetap bisa memainkan aplikasi ini dan membandingkan skor mereka dengan teman-teman di Facebook. Di satu sisi, mood pemain akan membaik, tapi di sisi lain pemain akan 'menghalalkan' segala cara hanya untuk permainan seperti ini. "Saat itulah terlihat bahwa pemain tak dapat berpikir logis," jelas peneliti.
Di samping itu, Gazzaley dan rekan-rekannya juga mencatat Candy Crush yang dimainkan lebih dari lima jam dalam sehari dapat memicu kecanduan. Padahal sejumlah pakar sepakat kecanduan game sama kuatnya dengan ketergantungan pada obat-obatan.
Baca juga: Hati-hati, Kecanduan Game Bisa Picu Anak Bertindak Brutal
(lil/up)











































