Ya, peneliti dari Johns Hopkins University mengatakan bahwa untuk memprediksi apakah seorang anak berisiko mengalami autisme bisa diketahui dengan melakukan pengujian pada sperma calon ayah.
Dalam sebuah penelitian kecil yang diterbitkan dalam International Journal of Epidemiology, para peneliti mencari hubungan yang mungkin antara autisme dengan faktor epigenetik calon ayah, yang membantu mengatur aktivitas gen. Penelitian ini dilakukan dengan menguji sperma.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami bertanya-tanya apakah mungkin kita bisa mempelajari apa yang sebenarnya terjadi sebelum seseorang mengidap autisme," kata penulis studi ini, Andrew Feinberg, MD, MPH, dari Center for Epigenetics, Johns Hopkins University School of Medicine, seperti dikutip dari Fox News, Kamis (16/4/2015).
Dalam studi ini dilibatkan 44 responden pria, mereka dinilai dari data biologisnya untuk diketahui apakah mereka kemungkinan memiliki anak dengan risiko autisme. Sebagian dari pria yang terdaftar dalam penelitian ini diketahui sudah memiliki anak yang didiagnosis dengan autisme.
Studi juga menarik data biologis dari anak-anak setelah mereka lahir, tetapi sebelum mereka berpotensi didiagnosis dengan autisme. Satu tahun setelah kelahiran mereka, dokter menilai anak-anak tersebut dengan tanda-tanda awal autisme menggunakan skala autisme untuk bayi atau Autism Observation Scale for Infants (AOSI).
Ketika peneliti menganalisis gen yang teridentifikasi berkaitan dengan risiko autisme, mereka menemukan bahwa ada 10 gen yang terletak dekat dengan gen yang terlibat dalam proses perkembangan.
"Jika perubahan epigenetik diwariskan dari ayah ke anak-anak mereka, kita harus bisa mendeteksi mereka dalam sperma. Butuh studi lebih lanjut, namun ini membuka kemungkinan baru," papar peneliti lainnya dari Bloomberg School of Public Health.
Baca juga: Residu Pestisida Pada Sayur dan Buah Dapat Kurangi Kualitas Sperma
(ajg/vit)











































