Akibat adanya anggapan tersebut, Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat merilis data kenaikan konsumsi rokok cerutu dalam 10 tahun terakhir. Konsumsi rokok cerutu naik hingga 105 persen sementara rokok tembakau turun hingga 30 peren.
Padahal menurut Cindi Chang, peneliti dari FDA, risiko kematian yang ditimbulkan oleh rokok cerutu maupun rokok tembakau sama saja. Dua-duanya meningkatkan risiko penyakit kanker mulut, tenggorokan, paru-paru dan penyakit kardiovaskular.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Merokok cerutu juga menyebabkan kanker mulut, tenggorokan, paru-paru dan penyakit jantung, sama seperti merokok tembakau. Jadi anggapan bahwa cerutu lebih aman daripada rokok tembakau sangat salah," tutur Chang, dikutip dari Medical Daily, Selasa (28/4/2015).
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengatakan cerutu biasanya dibuat dari daun tembakau yang sudah difermentasi. Kandungan dalam satu cerutu bisa disamakan dengan satu bungkus rokok dalam hal jumlah tembakau fermentasi yang digunakan.
Penggunaan cerutu yang meningkat menjadi sorotan karena pergeseran umur penggunanya. Dahulu, cerutu hanya digunakan oleh orang dewasa dan lansia. Namun dengan adanya produk cerutu yang memiliki rasa, maka pengguna dari kalangan remaja dan anak-anak semakinĀ meningkat.
Cristine D. Delnevo dari Rutgers Cancer Institute of New Jersey mengatakan bahwa peningkatan jumlah anak-anak dan remaja yang merokok cerutu disebabkan oleh rasanya yang kini mulai bervariasi. Mulai dari rasa permen karet, cokelat, hingga rasa permen.
"Cerutu adalah produk tembakau yang rasanya paling bervariasi dari seluruh produk tembakau. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa industri rokok menggunakan berbagai macam rasa untuk menarik pasar anak-anak dan remaja," papar Delnevo seperti dikutip dari Reuters beberapa waktu lalu.
Penelitian yang dilakukan Delnevco bersama National Institute of Health menemukan bahwa 8 persen pria dan 2 persen wanita mengatakan bahwa mereka merokok cerutu minimal satu batang dalam 30 hari terakhir. Persentase paling tinggi muncul dari grup usia 18-25 tahun, di mana 11 persen mengaku mengisap satu batang cerutu dalam 30 hari terakhir.
Baca juga: Wah, Cerutu Juga Mulai Dihisap Oleh Anak-anak dan Remaja (Muhamad Reza Sulaiman/Nurvita Indarini)











































