Gadis yang bernama Fallan Kurek itu awalnya diberi resep Rigevidon oleh sang dokter. Ini merupakan salah satu jenis pil kontrasepsi yang diklaim dapat memperlancar menstruasi. Seharusnya Fallan mengonsumsi pil itu selama tiga bulan, namun baru hari ke-25, Fallan memperlihatkan gejala seperti sesak napas dan mengeluh nyeri di dada maupun kakinya hanya saja tak terjadi hal yang membahayakan setelahnya.
Akan tetapi gejala ini muncul kembali saat Fallan pergi ke salon dekat rumahnya. Orang tuanya, Brian dan Julia mengira putri ketiga mereka itu terkena serangan panik (panik attack). Mereka kemudian membawanya ke Sir John Peel Hospital untuk check-up.
"Mereka bilang ia baik-baik saja, mungkin tulang dadanya memar," tutur Julia. Fallan dipulangkan ke rumahnya di Tamworth, Staffordshire, Inggris dan hanya diminta mengonsumsi ibuprofen dan paracetamol.
Baca juga: Angka Kematian Ibu Bisa Ditekan dengan Kontrasepsi
Empat hari kemudian, Brian dan Julia membangunkan Fallan dan menanyakan apakah kondisinya sudah membaik atau belum. Namun saat gadis berusia 21 tahun itu mencoba bangkit dan turun dari tempat tidurnya, ia mulai merasakan sesak napas lagi.
"Ia lantas meminum pilnya, dan turun ke lantai bawah. Tapi baru setengah jalan, ia terjatuh dan lemas," lanjut Brian. Ketika tim medis berupaya memeriksanya, Fallan berhenti bernapas. Ini memaksa mereka membawa Fallan ke Good Hope Hospital. Saat itu ia sudah dipasangi ventilator dan scanning darurat di kepala dan dadanya tengah dilakukan.
Sesampainya di rumah sakit, Fallan langsung dilarikan ke instalasi gawat darurat. Namun setelah sempat dirawat selama tiga hari, ia dinyatakan mengalami mati otak karena sebelum sampai di rumah sakit, otaknya ternyata sudah kehabisan oksigen.
Ventilatornya pun dicopot dan dalam hitungan setengah jam, Fallan menghembuskan napas terakhirnya, tepatnya pada tanggal 14 Mei lalu.
Menurut keterangan dokter, penyebab kematian gadis malang ini adalah pulmonary embolism atau penyumbatan akibat penggumpalan darah di dalam paru-parunya. Penyumbatan ini mengakibatkan bagian kanan jantungnya meradang.
"Kami berang ketika mereka bilang penyebabnya adalah pil itu. Karena ia hanya minum itu untuk melancarkan menstruasinya," tegas Julia seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa (26/5/2015).
Baca juga: Beku Darah Otak Pasca Minum Pil Kontrasepsi, Pengantin Baru Ini Meninggal
Julia dan suaminya berharap dengan berbagi kisah mereka, risiko kematian akibat penggumpalan otak yang disebabkan oleh konsumsi pil kontrasepsi dapat dicegah. Mereka juga mendorong para dokter untuk tak semata memberikan resep tapi juga menjelaskan efek samping serius dari konsumsil pil semacam ini bagi wanita.
"Kami tak bisa menghidupkan Fallan, untuk itu satu-satunya hal yang bisa kami lakukan adalah mencoba menyelamatkan nyawa orang lain," tutup Brian.
(Rahma Lilahi Sativa/AN Uyung Pramudiarja)











































