ALS adalah penyakit saraf yang biasanya menyerang orang berumur 30 dan 40 tahun. Penyandangnya perlahan akan kehilangan kemampuan gerak sampai akhirnya lumpuh karena sinyal otak ke otot lewat saraf mengalami gangguan.
Penyebabnya dikatakan dokter belum diketahui pasti namun bisa juga karena genetik seperti yang terjadi pada Kholidin dan Devi.
Kholidin awalnya adalah seorang buruh yang bekerja di Bandung, sementara Devi adalah asisten rumah tangga. Mereka datang dari keluarga tak berkecukupan sehingga terpaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan tak melanjutkan pendidikannya setelah Sekolah Dasar (SD).
Baca juga: Kurang 'Tenar', Kesadaran Terhadap Penyakit ALS di Indonesia Masih Minim
"Waktu si Kholidin 17 tahun nah itu dia tiba-tiba pegal, pening, terus keram. Bicara dia juga sama berbarengan mulai susah. Setelah sebulan akhirnya dia cuma bisa duduk di kursi saja," ujar Ketua RT Desa Girimukti Lili yang menemani sang kakak adik menghadiri seminar ALS di Mayapada Hospital, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, seperti ditulis pada Minggu (7/6/2015).
Hal serupa juga terjadi pada Devi. Mereka berdua dikatakan Lili kini hanya bisa terduduk diam di kursi roda dan hanya bisa mengandalkan bantuan orang lain.
Selain Kholidin dan Devi, sang ayah Adeng (46) juga punya penyakit yang sama. Keluarga mereka beranggotakan 6 orang dan tiga di antaranya punya ALS.
"Yang enggak kena itu istri, anaknya yang ketiga Sukma (15) sama yang paling kecil Ridwan (11). Tapi ini si Sukma sudah mulai nih kadang-kadang," kata Lili yang menambahkan kini karena tak ada yang bekerja mereka sangat bergantung pada bantuan orang lain.
(fds/ajg)











































