Stunting atau kondisi tubuh pendek bisa terjadi karena nutrisi makanan yang tidak terpenuh sejak bayi bahkan dalam kandungan.
"Pertumbuhan otot dan tulang dipengaruhi oleh growth hormone. Keseimbangan pertumbuhan tadi dipengaruhi oleh nutrisi yang bisa menstimulasi hormon. Tetapi akan terhambat jika gizi kurang atau nutrisi kurang," ucap Dr dr Damayanti R. Sjarif, SpA(K), pada diskusi media oleh Tetra Pak di Hotel Intercontinental, Jakarta Selatan pada Kamis (2/7/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter dari Divisi Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakulktas Kedokteran Universitas Indonesia ini menyebutkan nutrisi yang mempunyai efek langsung terhadap pertumbuhan linear (tinggi badan) adalah nutrisi tipe II seperti protein asam amino esensial, zinc, nitrogen, dan potasium. Protein asam amino esensial terutama berasal dari proteni hewani seperi telur, daging, atau susu.
Pada bayi, ASI (Air Susu Ibu) memang menjadi sumber nutrisi. Namun ketika bayi berusia di atas 6 bulan, energi yang dihasilkan ASI berkisar 400 kalori dan bahkan zat besinya hampir nol. Oleh karena itu, MPASI (Makanan Pendamping ASI) juga disarankan untuk bisa memenuhi nutrisi sejak dini.
"Yang menyebabkan asupan gizi kurang pada anak sebenarnya adalah pengetahuan yang kurang mengenai makanan yang diberikan. Kebanyakan orang prioritasnya organik dulu. Padahal nomor satu yang dipilih karena gizinya dulu. Kalau organik dan bergizi lebih bagus lagi," imbuh dr Damayanti.
Untuk bisa menanggulangi stunting agar tidak terjadi pada anak salah satunya adalah kenali stunting pada balita dengan rutin konsultasi dan memeriksa tinggi serta berat badan. Bagi bayi di bawah dua tahun diukur saat baring dan di atas dua tahun diukur saat berdiri. Pengukuran pada bayi di tahun pertama disarankan untuk dilakukan setiap bulan dan tahun selanjutnya dilakukan setiap tiga bulan.
Cara utama untuk menanggulanginya tentu saja dengan memberikan makanan yang mengandung nutrisi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh. Bagi bayi, kadar konsumsi protein seperti daging, telur, atau susu sangat dibutuhkan untuk mencegah stunting.
Stunting saat ini masih menjadi masalah yang dihadapi di beberapa negara di dunia. Sebab, dampak dari stunting sangatlah besar antara lain memengaruhi kognitif anak dan gangguan sistem pembakaran. Jangka panjangnya dapat menyebabkan obesitas, penyakit jantung koroner, dan penyakit lainnya.
Baca juga: Cegah Anak Stunting Paling Efektif Dilakukan Sejak Kehamilan (ajg/up)











































