Akan tetapi seorang peneliti dari Inggris bernama Prof John Collinge berpendapat lain. Menurutnya, penyakit Alzheimer dapat ditularkan lewat prosedur medis tertentu.
Baca juga: Mudah Lupa? Jangan Asal Minum Vitamin, Perbaiki dengan Rajin Olahraga
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari riwayat medisnya, pasien-pasien ini diketahui terserang CJD setelah disuntik hormon yang biasa diberikan pada anak-anak dengan gangguan pertumbuhan.
Namun yang membuat Prof Collinge terkejut adalah ia menemukan amyloid beta protein pada 7 dari 8 otak pasien. Bahkan 4 pasien di antaranya memperlihatkan level protein yang tinggi. Seperti kita tahu, amyloid beta protein selama ini menjadi penanda biologis utama untuk Alzheimer.
Anehnya, pasien rata-rata meninggal pada kisaran usia 36-51 tahun. Padahal kerusakan otak semacam itu tidak lazim terlihat pada kelompok usia tersebut. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa CJD yang diidap seluruh pasien juga tidak memicu penumpukan protein yang dimaksud.
"Dengan kata lain ada kemungkinan bahwa protein tersebut terkandung di dalam suntikan yang diberikan, seperti halnya CJD itu sendiri," papar Prof Collinge seperti dikutip dari jurnal Nature, Minggu (13/9/2015).
Sayangnya tak ada satupun pasien yang sempat dipastikan mengidap Alzheimer sebelum meninggal. Meski begitu Prof Collinge yakin jika saja usia mereka lebih panjang, hal itu bisa saja terjadi.
"Yang pasti kesamaan protein yang ditemukan pada otak pasien Alzheimer dengan yang kita temukan memicu CJD perlu diteliti kembali, agar kita bisa tahu apakah mereka bisa ditularkan dengan cara yang sama atau tidak," lanjutnya.
Baca juga: Wanita Berisiko Alami Penurunan Mental 2 Kali Lebih Cepat dari Pria
Di akhir laporannya, Prof Colline berkesimpulan bahwa instrumen medis yang telah terkontaminasi bisa jadi dapat menularkan amyloid beta protein dari satu pasien ke pasien lainnya. Entah itu lewat transfusi darah, tindakan bedah atau juga perawatan gigi.
Namun selama belum terbukti bahwa kontaminasi ini dapat berujung pada Alzheimer, Prof Collinge mendesak agar siapapun yang membaca hasil penelitiannya untuk tidak keburu panik. Ia meyakini ketujuh pasien yang ditelitinya berada dalam 'situasi yang sangat istimewa'. "Anda tak mungkin bisa tertular Alzheimer hanya karena tinggal serumah dengan pasien," tegasnya.
Menanggapi studi ini, banyak pakar yang meragukan hasil penelitian Prof Collinge. Selain karena sampelnya hanya 8 orang, penelitian ini tidak membuktikan bahwa Alzheimer bersifat menular via prosedur medis apapun.
(lll/vit)











































