Tak Sebatas Riset, Simposium Litbangkes ke-2 Diharap Juga Bisa Hasilkan Produk

Tak Sebatas Riset, Simposium Litbangkes ke-2 Diharap Juga Bisa Hasilkan Produk

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Selasa, 15 Sep 2015 12:30 WIB
Tak Sebatas Riset, Simposium Litbangkes ke-2 Diharap Juga Bisa Hasilkan Produk
Foto: thinkstock
Jakarta - Simposum internasional penelitian dan pengembangan kesehatan digelar untuk yang kedua kalinya. Namun, ada yang berbeda pada simposium kali ini.

"Simposium internasional ini merupakan acara untuk menambah mutu penelitian. Tapi yang berbeda kali ini, kita juga bicara bagaimana mengubah riset laboratorium menjadi produk, jadi nggak hanya dibahas riset semata," kata Kepala Balitbangkes RI Prof Tjandra Yoga Aditama di Balai Kartini, Jl Jend Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa (15/9/2015).

Menarget 500 peserta, namun sampai saat ini sudah ada 754 peserta. Dalam simposium kali ini dibahas 7 topik utama di antaranya yakni peran penelitian serta komunitas bisnis, vaksin, obat-obatan, penelitian jamu, medical devices dan aturan penelitian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hadir dalam kesempatan yang sama, Menkes Nila Moeloek menuturkan simposium kali ini menarik dan penting. Di tahun 2012 sendiri, dikatakan Menkes Nila, Indonesia mulai melakukan pendekatan penelitian dan pengembangan produk dalam bentuk konsorsium riset.

Baca juga: Sepanjang 2015, Balitbangkes Lahirkan 12 Peneliti Bergelar Doktor

"Misalnya obat malaria artemisin dari tanaman artemisia annua yang didahului dengan penelitian riset tanaman obat dan jamu, yang bisa dimanfaatkan untuk masyarakat, itu bukti nyata. Begitu pun penelitian soal tanaman asli Indonesia yang bisa menjadi obat untuk menurunkan asam urat dan hipertensi," terang Menkes.

Menkes mengatakan, sebagai contoh, pengembangan bahan baku obat malaria untuk 2 juta kasus malaria diperlukan artemisinin 900 kg dari 450 ton simplisia kering yang diperoleh dari 100 hektar tanaman artemisian annua.

"Dewasa ini, obat artemisinin untukk pengendalian malaria di Indonesia masih diimpor dari luar negeri. Karenanya, Kemenkes tengah melakukan terobosan untuk mewujudkan kemandirian penyediaan artemisinin," kata Menkes.

Penelitian seperti ini, menurut Menkes tidak bisa berhenti begitu saja karena juga banyak bahan baku yang tersedia dan berpotensi menjadi produk. Untuk itu, dalam simposium kali ini tak hanya peneliti yang diundang tetapi juga industri sehingga bisa dilakukan kerja sama yang menghasilkan produk.

Menkes juga mengatakan terkait riset dan pengembangan kesehatan, anggaran bisa naik dua kali lipat mengingat naiknya APBN. Sehingga, menurut Menkes, dengan anggaran yang dinaikkan, bisa mendorong riset yang kemudian diimplementasikan menjadi produk.

Baca juga: Paling Komplet, Lab Balitbangkes Jadi Primadona Laboratorium di Indonesia


(rdn/up)

Berita Terkait