Debby Herbenick, PhD, pakar kesehatan seksual dari Indiana University mengatakan penyebab utamanya adalah banyak pria yang memahami bahwa kondom hanyalah alat pengendali kelahiran. "Di waktu yang bersamaan, mulai banyak wanita yang memakai metode kontrasepsi jangka panjang atau LARCs," papar Debby.
Bila kinerja keduanya dibandingkan, metode pengendali kelahiran jangka panjang seperti implan atau IUD lebih efektif mencegah kehamilan dibandingkan kondom. Buktinya, CDC menemukan efektivitas kondom hanya 82 persen, sedangkan LARCs mencapai 99 persen, apalagi jika digunakan dengan benar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Cegah Infeksi HIV ke Bayi, Menkes Tekankan Pentingnya Penggunaan Kondom
Uniknya, ada satu faktor khusus yang diklaim Debby ikut berkontribusi terhadap menurunnya tren penggunaan kondom. Faktor yang dimaksud adalah kebiasaan menonton film biru.
"Banyak dari pria muda yang belajar bercinta dengan menonton porno, padahal tak ada satupun aktor yang memakai kondom," ungkap Debby seperti dikutip dari Men's Health, Selasa (15/9/2015).
Kebiasaan menarik kemaluan sebelum ejakulasi yang banyak dipertonton di film porno sedikit banyak juga mempengaruhi para pria. Padahal Debby memastikan, pasangan tetap bisa hamil meski ejakulasi dilakukan di luar vagina.
Untuk itu, Debby mengatakan skenario paling aman untuk melindungi diri dari penyakit seksual sekaligus mencegah kehamilan adalah dengan memakai kondom sekaligus membiarkan istri menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang.
Toh sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Sexual Medicine mengungkap, kenikmatan seksual yang dirasakan seorang pria bisa meningkat jika ia merasa nyaman ketika memakai pengaman. "Saya juga sarankan untuk mengoleskan sedikit lubrikan setelah kondom dipasang, itu bisa menambah sensasinya," tutupnya.
Baca juga: Ini yang Sebenarnya Dirasakan Pria Ketika Gunakan Kondom Saat Bercinta
(lll/up)











































