Di tengah keikhlasan, Siti tak menyerah untuk tetap menyiapkan air susu ibu (ASI) untuk puteranya. Perjuangan Siti yang begitu menyentuh dituangkan dalam kontes menulis Tambah ASI Tambah Cinta (TATC) yang bekerjasama dengan detikHealth. Berikut ini kisah lengkapnya:
Aku sungguh bahagia dan bangga menjadi ibu dari seorang anak istimewa Muhammad Faiq Antoni yang lahir pada tanggal 11 september 2013. Lahir dengan tidak spontan menangis dengan BB 3,2kg dan panjang 50 cm. Melahirkan dengan normal dengan bonus jahitan lebih dari 20 di jalan lahir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adik ipar mengenalkan TATC (Tambah ASI Tambah Cinta). Ya TATC yang begitu aku cintai dan merupakan sumber ilmu bagiku. Sampai akhirnya aku belajar, ternyata aku salah perlekatan, belajar jadi mama perah dan lain-lain seputar menyusui.
Kembali tentang awal menyusui Faiq, karena flat nipple dan salahnya perlekatan membuat putingku terluka parah. Aku konsultasikan ke bidan yang membantu melahirkan, dan aku disodorkan susu formula dua dus, bahkan memberikan gratis. Katanya, ASIku masih sedikit.
Beruntung aku belajar tentang dahsyatnya manfaat kolostrum. Aku semakin bulat ingin memberikan ASI eksklusif kepada Faiq, aku tetap menyusui sampai berdarah, bernanah bahkan daging putih seperti muncul di putingku. Dan aku yakin ASI ku akan cukup untuk Faiq. Walau kadang harus terkencing-kencing menahan sakit atau bahkan kakiku di pegang mama dan kakakku.
17 Oktober 2013 Usia 36 Hari, Muntah Puluhan kali
Dari pagi faiq tidak berhenti muntah, tapi minum ASI-nya tetap kuat. Aku hitung sudah hampir 20 kali muntah.Muntah yang tidak wajar dan banyak. Aku coba ke bidan terdekat dan tanya-tanya kepada keluarga dan teman yang lebih pengalaman katanya itu biasa terjadi. Iya bayi memang biasa gumoh kata mereka.
18 Oktober 2013 Hiperbilirubin
Pagi-pagi Faiq terlihat lesu, sekujur badannya kuning sampai gusi dan kuku nya pucat. Segera aku bawa ke Rumah sakit terdekat, aku bawa faiq ke RS Annisa Medical Center (AMC) Bandung. Kaget ketika dibawa ke UGD HB Faiq hanya 3, hiperbilirubin dan demam tinggi. Kata dokter kemungkinan Faiq perdarahan otak dan satu diagnosa lagi entah apa aku lupa namanya, intinya nanti faiq harus cuci darah seumur hidup.
Aku kaget dan tidak percaya, karna Faiq tidak pernah jatuh. Aku yang mengasuhnya siang malam. Aku pastikan Faiq baik-baik saja dalam pengasuhanku. Tapi dokter bilang penyebabnya bias juga karena Faiq tidak bisa mandiri membekukan darahnya sendiri, karena ketika di dalam kandungan proses pembekukan darah janin dibantu ibu atau bisa jadi karena kekurangan vitamin K. Walau seingatku, beberapa saat setelah lahir nakesnya langsung menyuntikan vit K untuk Faiq. Daripada terus bertanya dalam hati karena apa, lebih baik aku sabar dan ikhlas.
Faiq ditempatkan di ruang perinatologi sudah di pasang selang O2, infusan dan NGT(nasogastric tube) yang dipasang dari hidung untuk memberikan ASI nanti. Faiq harus segera transfusi darah karena HB nya hanya 3 dari normal 16. Sayangnya pagi itu darah O resus + tidak tersedia. Faiq harus dipuasakan, jadi entah berapa hari Faiq tidak boleh minum ASI.
Rasanya sedih luar biasa, karna aku terbiasa menyusui siang malam dan memeluk faiq. Tapi suster tetap menguatkanku, menyuruh tetap memerah ASI. Ruang perinatologi hanya boleh dikunjungi pagi dan sore saja itupun hanya sebentar aku melihat dari jauh dibalik kaca tanpa menyentuh faiq yang selalu dalam pelukanku.
Memang tidak mudah, aku masih merasakan sakitnya jahitan, luka di puting juga dan akupun masih dalam masa nifas. Tapi aku harus kuat demi Faiq.
|
19 Oktober 2013 Pertama Faiq Kejang
Pukul 02.00 WIB (dini hari) aku dihubungi pihak rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, dokter bilang sudah transfusi darah jam 23 tadi. Dan aku mendapati Faiq yang terus menerus kejang. Dokter bilang dari hasil USG kepala kemungkinan besar Faiq perdarahan otak tapi tetap harus dipastikan dengan CT Scan, Faiq juga harus segera di operasi dan lagi Faiq harus segera ke rumah sakit besar yang fasilitasnya lengkap.
Atas kesepakatan keluarga karena biaya operasi, ruangan PICU (Pediatric Intensive Care Unit), obat dan lain-lain sangatlah besar. Kemungkinan total dana ratusan juta. Jadi kami sepakat bawa ke RSHS bandung agar biaya lebih ringan. Lalu paginya pukul 07.30 WIB aku dan suami menggunakan ambulans dari RS AMC ditemani dua perawat pergi ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS).
Sesampainya di RSHS Faiq langsung dipasangi alat yang begitu banyak. Selang-selang dan kabel-kabel hingga katater. Faiq langsung menjalani CT Scan, dari hasil CT Scan menyatakan Faiq mengalami perdarahan otak dan harus segera operasi.
20 Oktober 2013 Operasi Mengancam Nyawa, Tidak Operasi Lebih Mengancam Nyawa
Faiq tidak berhenti kejang. Kondisinya mulai memburuk. HB-nya masih 3 jadi harus kembali transfusi darah dan aku harus mengambil darah ke bank darah sementara suami sibuk ke apotek. Di bank darah, kantong darah milik Faiq masih dingin.
Masih ingat sepanjang perjalanan ke IGD aku peluk kantong berisi darah itu agar segera menjadi suhu ruangan (aku tempelkan kantung itu ke perut). Alhamdulillah setelah transfusi darah HB Faiq menjadi 5. Tapi kondisi Faiq tetap makin memburuk. Berhenti menangis dan masih terus kejang.
Siang itu tiga orang dokter dari bedah saraf anak mendatangi aku dan suami. Mereka membawa kabar yang sangat buruk. Mengatakan bahwa kemungkinan Faiq untuk dioperasi akan mengancam nyawanya. Tapi tidak dioperasi pun akan lebih mengancam nyawanya, karena darah terus menekan otak. Sehingga semakin banyak terjadi kerusakan di otak. Kemungkinan besar Faiq akan mengalami cerebal palsy berat.
Dokter bilang, mereka tidak bisa mengambil tindakan apa-apa selain memberi antibiotik, anti kejang dan vitamin K. Hanya kekutan doa dan keajaiban untuk Faiq bisa melewati masa kritisnya.
21 Oktober 2013 Kritis lalu Ikhlas = Keajaiban
Malam itu pukul 23.00 WIB kondisi Faiq semakin memburuk, lemah dan masih terus kejang. Ubun-ubunnya pun makin cembung dan membesar pertanda perdarahannya makin kuat menekan otak Faiq. Matanya sudah bengkak, kulitnya mulai menghitam dan bibirnya begitu kering tertutup rapat karna Faiq masih puasa.
Malam itu tiba-tiba Faiq henti napas kurang dari lima menit, kami langsung panggil dokter. Dan ya memang Faiq sangat kritis. Sekitar lima dokter memenuhi ruangan. Ada dokter yang terus memompa jantung Faiq yang semakin melemah. Dan malam itu Faiq sering henti nafas.
Pukul 01.00 WIB dini hari aku dan suami dipanggil ke ruangan dokter. Menurutnya Faiq hidup hanya karena alat-alat di tubuhnya. Ya memang aku dan suami sudah tidak kuat melihat Faiq kesakitan. Jadi kami putuskan untuk menandatangani pencabutan alat-alat di tubuh Faiq. Dan yang tersisa hanya selang O2, NGT, katater dan alat pendeteksi jantung.
Aku dan suami tak berhenti menangis ketika alat-alat itu satu persatu dilepas. Mendidih otakku, semua badan meriang seperti tidak menginjak bumi. Padahal aku akan terus memperjuangkan Faiq, walau kemungkinan hidupnya sangatlah tipis. Tapi melihat Faiq kesakitan dan terus menerus kejang serta berhenti napas rasanya aku dan suami tidak tega.
Setelah alat-alatnya dilepas, memang faiq terus memburuk keadaannya dan sering henti napas. Hingga alat pendeteksi jantung yang suaranya seperti tidak biasa. Aku dan suami terus membisikan Faiq 2 kalimat syahadat, meminta maaf pada Faiq karena kami selama ini tidak bisa jadi orang tua yang baik. Meminta Faiq agar pergi dengan tenang karena kami ikhlas dan sudah tidak kuat melihat segala penderitaan Faiq.
Tapi yang terjadi nafas Faiq terus memburuk, dan pendeteksi jantung menyatakan Faiq meninggal. Rasanya dunia runtuh, lunglai, lemas, gelap. Suami yang menguatkan dan memeluk erat walau aku tahu, suamiku juga mengalami kiamat kecil. Dokter terus memompa jantung Faiq tidak berhenti, sampai kulihat begitu banyak keringat di wajah cantik dokter itu.Tapi subhanallah tiba-tiba pendeteksi jantung itu menyatakan Faiq masih hidup. Iya pukul 03.00 dini hari sekujur badanku merinding, begitu nyata keajaiban Allah. Aku bersujud Faiq seakan melewati masa kritisnya.
22 Oktober 2013 Putra Kecilku Koma
Setelah melewati masa kritisnya, Faiq lalu koma. Badannya makin terlihat menghitam, kepalanya masih cembung, bibirnya makin kering sekali karena memang dia masih harus puasa. Kalau diberikan ASI, dokter takut akan berbahaya pada paru-parunya.
Walau koma, Faiq masih sering kejang. Pantat Faiq berjamur karna mungkin hanya tertidur dan berkeringat. Punggungnya seperti panas, sering kubalik punggungnya kanan kiri per satu jam. Kuolesi krim untuk jamur nya, kuwaslap wajahnya yang dalam keadaan koma itu.
Kuhubungi orang tuaku agar mengikhlaskan kepergian Faiq. Faiq masih koma karena mungkin kakek neneknya tidak ikhlas, itu pikirku.
Siang itu kakek dan neneknya Faiq sampai di RS. Aku wanti-wanti agar mereka tidak menangis, kasihan Faiq. Kakek neneknya terus membisiki Faiq. Bahwa mereka ikhlas Faiq pergi kalau sudah kesakitan terus.Tapi kalau masih mau bertahan, ayo kita segera pulang dari sini. Begitu kata kakek dan nenek Faiq.
Subhanallah Faiq yang sedang koma seperti mendengar apa kata kakek dan neneknya. Tangannya bergerak dan matanya sedikit-sedikit membuka. Ya Faiq membuka matanya walau beberapa detik dan kembali koma. Kami begitu bahagia walau Faiq membuka mata beberapa detik, dia seakan berkata kalau dia akan berjuang hidup untuk orang-orang yang menyayanginya.
23 Oktober 2013 Transfusi Darah ke-3 dan HB Normal
Faiq kembali melakukan transfusi darah yang ke-3. Masih terus diberikan antibiotik, vitamin K dan obat antikejang. Faiq pun masih koma dan puasa. Alhamdulillah setelah tranfusi darah HB nya menjadi 12. Senangnya dengan apapun kemajuan kesehatan Faiq walau sedkit-sedikit.
25 Oktober 2013 Ruang Perawatan
Faiq masih koma tapi sudah berada di ruang perawatan anak.
27 Oktober 2013 Minum ASI Melalui NGT
Faiq masih koma dan dokter mengabarkan kalau Faiq sudah bisa diberikan ASI melalui NGT berupa selang kecil yang dimasukkan dari hidung sampai lambungnya jadi ASI perahku disuntikan ke hidungnya faiq melaui selang itu. Untuk awalnya Faiq hanya diberikan 10 ml per 3 jam dan akan dinaikan terus sampai terlihat paru-paru dan lambungnya menerima ASI perah. Dalam artian bila kami menyuntikan ke selang dan setelah itu selang tersebut langsung kosong atau ASI tidak naik ke atas berarti lambung dan paru-parunya menerima.
Ibu mana yang hatinya tidak sakit karena harus memberikan ASI dengan cara seperti itu. Tapi aku harus tetap kuat untuk Faiq dan demi hasil perahanku yang terus membaik.
28 Oktober 2013 Sadar dari Koma
Alhamdulillah sadar dari koma. Tapi Faiq tidak bisa menangis apalagi menyusui langsung. Ketika diperiksa dengan stetoskop terdengar mur-mur di jantung faiq dan hasil rekam jantung menyatakan ada kebocoran pada jantung mungil jagoanku. Kemungkinan Faiq akan tetap memakai NGT sekalipun sudah pulang ke rumah. Karena akan kesulitan melekat lama dengan puting, belum lagi oral motornya yang lemah. Dan sudah dipastikan kehilangan refleks menghisap.
Aku stres hasil perahan tidak pernah bisa lebih dari 20 ml atau bahkan hanya 10ml. Aku dengar di ruangan lain ada dua anak yang meninggal karna kanker otak dan perdarahan otak. Aku merasa semakin stres.
Karena hasil perahanku yang semakin sedikit malah cenderung mendekati kering akhirnya suster memberikan susu formula, karena dokter menyarankan Faiq harus diberikan ASI 70 ml per 3 jam. Tapi aku dan suami menolak keras, akhirnya suami menandatangani bahwa kami menolak susu formula. Aku tetap mempertahankan ASIku tanpa takut ancaman dokter dan suster.
29 Oktober 2013 Menyusui Kembali
Aku sangat bahagia, sedikit demi sedikit Faiq bisa menangis walau masih pelan. Dan bahagia masih bisa memberikan Faiq haknya yaitu ASI. Karena Faiq kehilangan refleks menghisap puting dan lemah oral motornya jadi dokter menyarankan agar aku membeli empeng/dot. Aku menolak lagi permintaan dokter.
Dengan telaten aku terus menyodorkan puting setiap saat. Walau Faiq tidak perduli. Kadang ekspresinya hanya flat atau bahkan hanya melirik bingung. Hingga akhirnya dia mau menjilat nya, perlahan menghisap hingga bisa menyusui langsung. Dari menghisap pelan sampai akhirnya bisa menghisap dengan baik dan kencang penuh tenaga. Bahagia tak terkira, bagaikan mimpi karena bisa kembali menyusui jagoanku.
30 Oktober 2013 Tangan Mungilnya Mencabut NGT
Setelah dia bisa menyusui langsung, tangan mungilnya menarik NGT itu sendiri seakan dia bilang, 'Bu aku mampu menyusui langsung, aku bisa dan aku tidak butuh NGT lagi' lalu aku ceritakan ke dokter. 'Ya tidak apa-apa bu bagus malah berarti Faiq membaik, apalagi anak ibu sudah menangis'. Padahal dokter memperkirakan sampai rumah pun Faiq akan tetap menggunakan NGT.
![]() |
01 November 2013 Pulang dari RS adalah Awal Perjuanganku
Akhirnya Faiq pulang dari rumah sakit. Pulang bukan karena dia sembuh, pulang bukan karena perdarahan otaknya hilang. Tapi dia pulang hanya karena sudah sedikit membaik. Aku pulang membawa jagoan dan pejuang kecilku yang mungil, kurus, hitam dan dengan kepala botaknya karna rambutnya terus rontok. Mungkin efek fototerapi.
Aku membawa pulang anak yang mengalami kebocoran jantung yang akan kesulitan menyusui, anak yang masih ada darah di otaknya dan tentu saja ini akan membuat Faiq menderita, anak yang oral motornya lemah yang akan rawan tersedak dan muntah ketika menyusui atau bahkan ketika MPASI dan anak yang berpotensi kejang.
Selama perjalanan menuju pulang, hatiku bergejolak. Harus ku apakan anak istimewa ini? Bagaimana merawatnya? Mampukah aku? Bagaimana tumbuh kembangnya nanti? Bagaimana masa depannya? Bagaimana...bagaimana... Otakku penuh dengan pertanyaan seperti tidak karu-karuan.
Aku bertekad dan yakin bahwa obat untuk Faiq adalah doa dan ASI. Karena dokter bilang Faiq masih bertahan hingga usia 4 bulan, berarti Faiq melewati titik aman pertama. Karena usia 4 bulan Faiq akan bisa mandiri membekukan darah dan berarti perdarahan di otaknya terserap sendiri.
2-3 Bulan aku jadi Zombie, Memejamkan Mata 1-3 Jam Saja
Sepulang dari rumah sakit, Faiq terus menahan sakitnya, tidak berhenti menangis dan terus begadang. Faiq tidak mau sama sekali ditidurkan di kasur. Jadi setiap malam Faiq tidur di pangkuan dan aku tidur dalam keadaan duduk menyender ke tembok atau tiduran di kursi.
Ya aku jadi zombie yang hanya tidur beberapa jam per harinya. Melalui masa-masa kesakitan Faiq karena perdarahannya menekan otak dan sudah dipastikan setiap waktu Faiq menangis kesakitan.
Karena Faiq menyusu dengan penuh semangat, walau kesakitan. Hari ke hari kondisi Faiq terus membaik. Berat badan nya naik 1-2 kg dalam kurun waktu kurang dari sebulan.
Kembali Melalui Rintangan Indah Menyusui
Rintangan memberikan ASI ke Faiq tidak berhenti sampai di situ saja. Di usia Faiq 3 bulan aku mengalami diare akut, sehingga aku menggunakan pospak karna aku tidak punya refleks lagi menahan 'maaf' pup. Tapi walau lemah aku tetap memberikan ASI.
Usia 6 bulan Faiq mengalami radang tenggorokan. Sehingga dia tidak mau menyusu atau makan apapun.3 hari aku kembali jadi mama perah dan memberikan ASI kepada Faiq dengan sendok walau sedikit demi sedikit.
Lalu saat usia Faiq 8 bulan, aku pernah keracunan makanan sehingga seharian muntah dan seharusnya aku rawat inap. Tapi mengingat Faiq yang masih ASI jadi aku putuskan tetap di rumah.
Dan yang terberat adalah ketika usia Faiq 15 bulan, terapis Faiq menyarankan agar aku menyapih dini Faiq, karena anak dengan PDD NOS bila tantrum akan menggigit. Ya, termasuk menggigit puting. Dan benar, nyaris setiap hari sekitar 2 bulan puting meneteskan darah.
Kakek dan nenek Faiq yang begitu sayang kepada faiq pun terpaksa mendukung Faiq disapih. Tapi suami tetap menguatkanku, dia salat sambil menangis dan memohon yang terbaik dari Allah SWT. Alhamdulillah dengan sounding terus menerus Faiq mengerti. Dan giginya yang setajam silet itu sudah berhenti menggigit puting.
Menyusui dengan Banyak 'Koleksi' Diagnosa
Semakin banyak diagnosa yang dokter berikan kepada Faiq, aku bukanya denial atau putus harapan. Aku malah semakin semangat memberikan ASI kepada Faiq. Karena aku yakin ASI nutrisi terbaik untuk otak Faiq dan sistem imunnya.
Ya, selain perdarahan otak yang setiap hari membuat Faiq kesakitan dan begadang sampai usia empat bulan, jantung Faiq juga mengalami kebocoran. Pasca sadar dari koma otot mata Faiq lemah, matanya papil atrofi (antara mata dan otak tidak sinkron).
Faiq juga sempat stroke ringan dan hemiprase dextra (kebanyakan dia menggunakan anggota tubuh kiri), cerebal palsy ringan, mikrosefalus atau kecilnya volume otak, autistik ringan dia juga berpotensi kejang bila demam. Ketika kejang dia henti nafas dan hasil EEG terlihat ada gelombang paku yang menyatakan Faiq epilepsi dan harus terapi obat selama dua tahun.
Sekilas MPASI Hingga Food Diary
Faiq hipersensitif oral dan oral motornya juga lemah, jadi ketika menyusui atau memberikan faiq MPASI itu hal yang cukup sulit. Aku memutuskan MPASI home made tanpa gula dan garam hingga usia 1 tahun.
Karena mudah tersedak atau muntah. Aku memberikan Faiq MPASI dengan tekstur bertahap sesuai kemampuannya. Hingga usia 1 tahun Faiq mampu memakan nasi utuh. Faiq juga sedang menjalani rotasi dan eliminasi makanan. Jadi sekiranya makanan itu berpengaruh kepada perilaku Faiq langsung aku eliminasi. Jadi aku punya food diary untuk Faiq.
Semua bahan makanan Faiq, kuusahakan organik termasuk sampo dan sabunnya. Faiq juga menjalani diet Casein, gluten dan sugar. Semua bumbu, sayur dan buah yang fenolnya tinggi, semua perasa, pewarna dan pengawet makanan. Semua masakannya dibuat dan dimasak dengan segala alat terbuat dari kaca dan kayu. Tidak ada logam, melamin atau plastik. Di rumah, seminimal mungkin aku tidak menggunakan bahan-bahan kimia.
Faiq tidak bisa menggunakan obat yang mengandung paracetamol, asetosal atau salsilat dan pseudoephedrin. Jadi aku selalu menyediakan obat-obatan yang dibutukan Faiq dari anti kejang hingga obat demam yang sugar free dan kalaupun tablet pasti salut gulanya dibuang. Faiq juga punya tabung oksigen sendiri di rumah, untuk kejangnya yang selalu henti napas hingga membiru.
Mengenai Menyapih
Awalnya aku akan mempersiapkan WWL, menyapih Faiq dengan cinta tanpa rasa trauma dan atas keikhlasan kami. Tapi, sampai sekarang tidak ada sounding agar Faiq berhenti menyusu sampai usia 2 tahun. Soundingku malah lebih ke 'ayo nenen yang banyak biar Faiq makin pinter, diangkat semua penyakitnya tumbuh kembang kamu baik dan punya kelebihan yang bermanfaat untuk banyak orang. Silahkan kamu yang menentukan sendiri kapan berhenti nenen. Dengan begitu kamu akan jadi laki-laki mandiri karna dari dini kamu sudah memutuskan hal terpenting dalam hidup kamu'. Aku biarkan secara natural Faiq berhenti menyusui.
Oke, semoga tulisan aku ini bermanfaat. Khususnya untuk diriku sendiri yang masih terus belajar. Aku tetap menyusui Faiq dengan keadaan puting terluka parah, aku pernah menolak dua kali susu formula padahal keadaan Faiq cukup gawat (ketika Faiq hiper bilirubin dan ketika Faiq koma), menjadi mama perah 'dadakan' dengan keadaan anak koma, menolak memberikan empeng untuk mengajarkan Faiq kembali refleks menghisap, sempat beberapa kali drop dan harus rawat inap tapi tetap menyusui Faiq, bolak balik ke rumah sakit tanpa suami karena harus LDR dan dengan diagnosa yang begitu banyak dari dokter tapi aku tetap 'kekeuh' memberikan ASI.
Semakin aku tahu semua penyakit Faiq begitu banyak, itu bukan membuatku sedih tersungkur. Malah semakin membuatku semangat memberikan ASI kepada Faiq. Dan buah dari 'menyusui dengan keras kepala' adalah Faiq-ku yang terus membaik. Dia terus semangat mengejar ketertinggalannya. Usia 23 bulan sudah berjalan dan bisa beberapa kosakata. Tentunya dengan fisioterapi dan lain-lain. Alhamdulillah.
Halaman 2 dari 3













































