Merawat Anak yang Jadi Korban Kekerasan Seksual

Merawat Anak yang Jadi Korban Kekerasan Seksual

Firdaus Anwar - detikHealth
Kamis, 22 Okt 2015 13:43 WIB
Merawat Anak yang Jadi Korban Kekerasan Seksual
Foto: thinkstock
Jakarta - Ketika seorang anak menjadi korban kejahatan seksual, keluarga wajib memberikan dukungan penuh untuk pemulihannya. Hal ini karena anak pasti akan mengalami trauma dan butuh bantuan.

Dijelaskan oleh dr Suzy Yusna Dewi, SpKJ(K), dari RSJ dr Soeharto Heerdjan bahwa ketika anak mengalami kekerasan seksual maka akan ada perubahan dirinya yang bisa terlihat. Anak bisa menjadi pemurung atau stres, depresi, ketakutan, dan orang tua harus bisa mendeteksi tanda-tanda tersebut.

Bila anak korban kekerasan seksual tertutup terhadap kondisinya, dr Suzy menyarankan agar anak terlebih dahulu dirawat di rumah sakit jiwa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebaiknya dimasukkan ke rumah sakit dulu. Kita lakukan intervensi untuk mengurangi trauma dan memperbaiki mood-nya dengan psikoterapi, alat-alat neuroskiatri, dan farmasi obat-obatan," kata dr Suzy pada seminar kekerasan seksual anak di RSJ dr Soeharto Heerdjan, Jl Latumenten, Jakarta Barat, Kamis (22/10/2015).

Baca juga: Waspada Kekerasan Seksual pada Anak, Kenali Ciri-ciri Paedofil

"Intervensi keluarganya yang paling penting adalah melakukan pendekatan seoptimal mungkin pada anak. Jadi lebih sayang, tidak memarahi, dan menggali emosi apa yang sedang dirasakan anak," lanjutnya.

Namun sayang pola pembinaan medis di rumah sakit dan di keluarga yang seimbang ini pada beberapa kasus tak terjadi. Orang tua atau anak memiliki stigma terhadap rumah sakit jiwa yang mencegah mereka untuk berkunjung.

Padahal kasus kejahatan seksual anak yang tak tertangani dengan baik bisa jadi bibit kasus-kasus baru ke depannya. Hal ini karena korban ketika tumbuh dewasa bisa jadi mengembangkan kelainan yang sama yaitu paedofilia.

"Kita memang enggak main-main terapinya kalau dia enggak mau menjadi pelaku. Makanya kita intervensi sejak anak-anak dan jangan stigma bahwa gangguan jiwa itu cuma hanya gangguan jiwa berat yang telanjang-telanjang di jalan," tutup dr Suzy.

Baca juga: Jangan Dijauhi, Anak Korban Kekerasan Seksual Perlu Perlindungan

(fds/vit)

Berita Terkait