Wow, Janda Ini Bisa Cium 'Aroma' Gejala Parkinson dari Tubuh Suaminya

Wow, Janda Ini Bisa Cium 'Aroma' Gejala Parkinson dari Tubuh Suaminya

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Jumat, 23 Okt 2015 14:38 WIB
Wow, Janda Ini Bisa Cium Aroma Gejala Parkinson dari Tubuh Suaminya
Foto: BBC
London - Beberapa waktu lalu, ilmuwan Inggris dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita yang mengaku bisa mencium perubahan bau badan suaminya sebelum sang suami kemudian didiagnosis dengan Parkinson.

Wanita ini bernama Joy Milne. Suaminya, Les didiagnosis dengan Parkinson di usia 45 tahun. Namun Joy sudah mencium aroma yang tak biasa dari tubuh Les sejak enam tahun sebelumnya atau bahkan sebelum gejala Parkinson muncul pada diri Les.

"Penciuman saya memang selalu bagus, dan sejak awal saya tahu ada perubahan pada bau Les, meskipun ini sangat tipis," kata Joy seperti dikutip dari BBC, Jumat (23/10/2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sayangnya wanita asal Perth, Skotlandia itu mengaku sulit menjelaskan seperti apa yang tercium dari tubuh suaminya saat itu. "Aromanya sedikit musky tetapi berat. Munculnya juga kadang-kadang saja. Tapi saya tak menyangka jika ini tidaklah lazim," lanjutnya.

Joy juga tidak tahu-menahu jika aroma tersebut ada hubungannya dengan kondisi yang diidap suaminya. Hingga akhirnya suaminya meninggal karena Parkinson di usia 65 tahun.

Joy Milne dan suaminya, Les (Foto: BBC)

Namun karena Joy masih aktif di yayasan Parkinson's UK. Saat itulah ia mengaku menemukan aroma yang sama dari tubuh suaminya dengan aroma tubuh pasien Parkinson lainnya. Ketika hal ini Joy utarakan kepada peneliti, mereka terperangah. Tim peneliti dari Edinburgh University lantas memutuskan untuk mengetesnya.

Baca juga: Tak Semua Tremor Merupakan Gejala Parkinson, Bagaimana Membedakannya?

Peneliti kemudian merekrut 6 pasien Parkinson dan 6 orang sehat. Masing-masing diminta mengenakan sebuah T-shirt selama sehari, lalu T-shirtnya dikembalikan kepada peneliti untuk ditandai. Saat Joy diminta membedakan mana T-shirt yang dikenakan pasien Parkinson dan mana yang tidak, Joy dapat memberikan jawaban yang akurat.

"Bahkan ia bersikeras ada satu partisipan dari kelompok kontrol yang sebenarnya mengidap Parkinson. 8 bulan kemudian si partisipan melapor kepada kami bahwa ia didiagnosis Parkinson, dan kami sangat terkesan," ungkap peneliti.

Penelitian ini pun dilanjutkan dengan mencari tahu apakah penyakit Parkinson memang memunculkan aroma tersendiri di tubuh pasiennya atau tidak. Pada dasarnya peneliti meyakini bahwa ada molekul khusus yang memicu perubahan pada sebum, atau sejenis minyak yang dikeluarkan kulit sehingga memicu aroma tak lazim tersebut.

Rencananya peneliti akan merekrut 200-an orang dengan Parkinson dan mereka yang tidak mengidap Parkinson untuk ambil bagian dalam studi ini. "Ini memang masih sangat dini, tapi jika terbukti, apalagi jika bau ini sudah ditemukan sejak awal atau sebelum munculnya gejala, maka dampaknya akan sangat besar," kata Arthur Roach, direktur riset dari Parkinson's UK.

Bukan hanya deteksi dini, tambah Roach, tetapi juga mempermudah ilmuwan untuk mengujicoba obat mana yang akan memperlambat atau bahkan menghentikan gejala Parkinson.

Baca juga: Mengenal Deep Brain Stimulation, Terapi Khusus untuk Pengidap Parkinson
(lll/up)

Berita Terkait