Kerjasama Orang Tua dan Guru Penting Demi Prestasi Anak dengan Disleksia

Bukan Bodoh, Tapi Disleksia

Kerjasama Orang Tua dan Guru Penting Demi Prestasi Anak dengan Disleksia

Firdaus Anwar - detikHealth
Rabu, 28 Okt 2015 11:04 WIB
Kerjasama Orang Tua dan Guru Penting Demi Prestasi Anak dengan Disleksia
Foto: Thinkstock/Fuse
Jakarta - Anak dengan disleksia memiliki kesulitan dalam mengolah kemampuan berbahasa. Muncul anggapan bahwa anak dengan disleksia sulit berprestasi di sekolah karena hal ini. Bagaimana tanggapan pakar?

dr Kristiantini Dewi, SpA, Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia (ADI) mengatakan bahwa ada dua hal yang bisa dilakukan untuk membantu anak disleksia berprestasi di sekolah, yakni melakukan remedial dan memberikan akomodasi. Kedua hal ini bisa dilakukan jika ada kerjasama yang baik antara orang tua dan guru.

Dijelaskan dr Kristiantini bahwa remedial adalah proses pengulangan materi-materi dalam pelajaran atau kesehariannya, namun menggunakan teknik tertentu. Pengulangan dilakukan untuk membuat proses belajar menjadi dua arah, tidak hanya satu arah saja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau misalnya di sekolah kan belajar dengan pensil kertas pensil kertas dengerin guru duduk. Kalau kami melakukan pendekatan multi centerik. Kita menggunakan video, menggunakan berbagai media (cerita, gambar, dongeng). Harus mengerti mereka belajar ini untuk apa dalam kehidupan sehari-harinya," ungkap dr Kristiantini, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis Rabu (28/10/2015).

Proses remedial memerlukan upaya lebih besar dari orang tua. Orang tua harus mau meluangkan waktu, tenaga dan biaya agar proses pengulangan pembelajaran yang dilakukan berefek maksimal pada anak.

Baca juga: Kenali Disleksia, Kelainan yang Membuat Anak Lambat Belajar 

Selain melakukan remedial, pemberian akomodasi juga harus dilakukan oleh guru di sekolah. Hal paling sederhana adalah dengan tidak membodoh-bodohi anak ketika kesulitan belajar. Proses akomodasi menuntut guru untuk lebih memahami disleksia yang dimiliki oleh murid.

"Kita minta orang-orang ramah terhadap disleksi. Kalau ketemu anak kesulitan belajar jangan langsung dibodoh-bodohi. Dia enggak mau nulis enggak mau belajar di kelas karena masalah perilaku atau memang ada gangguan dia enggak ngerti. Guru-guru lebih memahami dan lebih bisa memverifikasi kalau ada kesulitan belajar di kelas," paparnya.

Contoh proses akomodasi adalah dengan membuat anak duduk di dekat guru, memberikan waktu untuk menginstruksikan anak secara individual, atau memberikan lembar kerja yang lebih besar agar mudah dibaca.

"Penambahan waktu saat belajar dan ujian. Kalau temen-temennya 40 menit dia bisa 50 menit. Kata-kata penting di kasih highlight pakai stabilo atau tulisannya dibuat besar-besar dan spasinya jangan 1 tapi 2 agar membantu mereka membaca," tambah dr Kristiantini lagi.

Memang tak mudah dan butuh banyak pengorbanan. Namun patut diingat upaya-upaya ini dilakukan untuk memberikan anak dengan disleksia kesempatan yang sama seperti anak-anak lainnya.

"Karena anak ini memang lebih lama tapi bukan karena enggak bisa, tenang saja dia anak pintar kan cuman memang lebih lama," tutupnya.

Baca juga: ADI: 4 di Antara 40 Anak Dalam Kelas Bisa Alami Disleksia  (mrs/up)

Berita Terkait