Menurut pakar grafologi Debora dewi, gambar diri yang dialami anak bisa berefek pada tulisan yang dihasilkan. Gambar diri yakni bagaimana persepsi anak pada dirinya setelah mengalami sesuatu. Misalkan anak kerap dibully, ia merasa dirinya jelek dan tidak berharga.
"Tulisan anak mengalami perubahan. Contoh, awalnya dilihat keseluruhan itu layout tulisannya rapi, kanan kiri rapi penyusunannya. Huruf besar-besar. Tapi setelah itu dalam hitungan bulan saja, ukuran hurufnya mengecil drastis. Ibaratnya awal seperti rak buku rapi lalu jadi berantakan," tutur Debo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Anak Suka Coret-coret, Tanda Kreatif?
Begitupun doodle atau coret-coretan anak, debo menuturkan doodle juga bisa menggambarkan bagaimana suasana hati anak saat itu. Pada dasarnya, anak memang masih mencari bentuk tulisan. Sehingga, seiring bertambahnya usia, tulisan mereka bisa berubah.
"Di udia 7-8 tahun, ada yang disebut grafic maturity di mana anak sudah tidak perlu mengingat huruf dan bagaimana ia belajar mennulis. Saat itu, anak sudah mencapai kematangan grafis hingga ia bisa menulis lancar tanpa ingat huruf apa," kata Debo.
Tapi, jika kala itu huruf yang ditulis anak relatif tidak berbentuk, orang tua perlu memberi perhatian. Bisa jadi, anak butuh dibantu perkembangannya di area tertentu. (rdn/up)











































