"Coba kalau ditanya abis dari mana sama tetangga, 'ini abis nganter ke RSUD (rumah sakit umum daerah -red)'. Bandingkan kalau jawab 'ini abis nganter ke RSJ' bisa ditanya-tanya lebih lagi nanti," kata Sunjaya.
Baca juga: Sempat Dirawat di RSJ, Ini Kisah Bambang Sembuh dari Skizoafektif
Menanggapi hal ini dr Eri Achmad, SpKJ, dari RSUD Arjawinangun mengatakan bahwa labeling di masyarakat terkait kesehatan jiwa masih kuat. Padahal sebetulnya baik di RSU atau RSJ sama saja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apakah di Indonesia bisa seperti itu? Saya rasa sulit. Labeling 'oh kamu keluar dari RSJ yah?' Itu seumur hidup akan di bawa sama dia dan rasa mindernya akan semakin besar," kata dr Eri ketika ditemui di RSUD Arjawinangun, Cirebon, dan ditulis pada Kamis (5/11/2015).
"Ini memang bukan PR (pekerjaan rumah -red) yang gampang. Gangguan jiwa diramalkan oleh WHO pada 2030 akan menjadi penyakit beban keempat dunia karena pengidap kan enggak produktif dan harus terus dibiayai," tutup dr Eri.
Baca juga: Kembangkan Layanan Jiwa, RSUD Arjawinangun Cirebon Berani Nekat (fds/up)











































