Dijelaskan Prof Dr dr Dadang Hawari, Psikiater dari Madani Mental Health Care Foundation keluarga berperan dalam aspek psikologis program rehabilitasi korban NAPZA. Tanpa adanya dukungan keluarga, program rehabilitasi akan sulit untuk sukses.
"Karena orang tua harus memahami dulu apa itu kecanduan NAPZA. Sehingga mereka tidak akan lepas tangan, taruh anak di panti rehabilitasi lalu didiamkan saja. Orang tua harus ikut serta dalam program rehabilitasi," tutur Prof Dadang dalam talkshow di Kementerian Sosisal, Jl Salemba Raya, Jakarta Pusat, Selasa (10/11/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Orang tua harus mampu mengenali anaknya. Dengan kata lain, orang tua membantu mencari penyebab mengapa anak bisa sampai kecanduan NAPZA. Karena bisa jadi, penyebab anak bisa sampai kecanduan NAPZA adalah kurangnya bekal dan pengawasan dari orang tua.
Lebih lanjut, Melanie Hermanto dari Family Support Group menjelaskan bahwa tidak ada orang tua yang ingin anaknya menjadi korban NAPZA. Penyalahgunaan NAPZA merupakan pilihan anak yang dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti lingkungan rumah, teman sebaya dan lainnya. Tugas orang tualah agar anak tidak mengambil pilihan tersebut.
"20 Tahun saya merawat anak yang jadi korban NAPZA akhirnya membuat saya sadar kalau kecanduan NAPZA tidak bisa direparasi orang tua. Yang bisa mereparasi adalah diri mereka sendiri," paparnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Narendra Narotama, Ketua Ikatan Konselor Adiksi Indonesia. Ia menyebut bahwa adiksi merupakan penyakit sehingga selain diobati, juga harus ada pembinaan mental agar anak sadar bahaya adiksi.
"Ibarat wabah demam berdarah, difogging saja tidak akan hilang penyakitnya. Harus ada kesadaran untuk menguras bak mandi, menutup tong air dan sebagainya," ungkapnya.
"Sama dengan korban NAPZA. Selain dihilangkan sumber kecanduannya juga kesadaran ditingkatkan, anak muda difasilitasi sehingga tidak nganggur dan menggunakan NAPZA," pungkasnya.
Baca juga: (mrs/up)











































