Fobia Tak Lazim: Takut Hamil Hingga Takut Saat Lihat Orang Lain Sakit

Fobia Tak Lazim: Takut Hamil Hingga Takut Saat Lihat Orang Lain Sakit

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 12 Nov 2015 10:37 WIB
Fobia Tak Lazim: Takut Hamil Hingga Takut Saat Lihat Orang Lain Sakit
Foto: Getty Images
Jakarta - Fobia ketinggian atau kegelapan bisa jadi sudah familiar di telinga banyak orang. Tapi, dalam kehidupan nyata, ada pula ketakutan tak lazim yang dimiliki seseorang.

Seperti dirangkum detikHealth pada Kamis (12/11/2015), berikut ini fobia-fobia tak lazim yang nyatanya bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Fobia Toilet, Gadis Ini Meninggal Setelah 8 Pekan Tak Buang Air Besar

1. Fobia matematika

Foto: thinkstock
Dalam bidang psikologi, kegelisahan karena matematika cukup banyak diteliti. Untuk beberapa orang, matematika bahkan bisa sampai menjadi fobia. Penjelasan dari fenomena ini ditemukan peneliti yang studinya dipublikasi di American Psychological Association tahun 2011. Bagi beberapa orang disebutkan matematika bisa memicu respon fisik karena tubuh jadi melepaskan hormon stres kortisol.

Studi lainnya di jurnal PLOS One pada tahun 2012 juga menemukan bahwa ketika seseorang mengantisipasi tes matematika, ada bagian spesifik otak yang aktif. Bagian tersebut adalah bagian yang juga aktif ketika seseorang terluka dan mengatur rasa sakit.

"Hasil ini menunjukkan potensi hubungan saraf dan menjelaskan mengapa orang denganHMA (highmathematics-anxiety/
kegelisahan tinggi terhadap matematika) cenderung menghindari matematika," ujar penulis Ian Lyons dari Departemen Psikologi University of Chicago.

Namun, peneliti belum bisa menjelaskan mengapa matematika bisa menghasilkan kegelisahan lebih banyak dibandingkan subjek lain seperti misal geografi atau bahasa. Diduga kuat, sumber rasa gelisah terhadap matematika diprediksi bisa dari guru, ekspektasi kultural, atau genetik.

2. Fobia hamil

Foto: thinkstock
Tokophobia merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut mereka yang fobia pada proses kehamilan dan juga persalinan. Fobia ini tergolong langka, karena diperkirakan hanya terjadi pada 8 persen wanita saja.

Tokophobia biasa ditemukan pada wanita yang takut dengan rasa sakit akibat melahirkan, meskipun belum pernah mengalaminya, atau wanita yang memiliki pengalaman traumatis dengan persalinan.

3. Fobia varises

Foto: ilustrasi kaki
Fobia atau ketakutan berlebih terhadap varisesĀ  biasa disebut juga dengan venephobia. Pengidap venephobia bisa ketakutan bukan kepalang ketika ia melihat varises yang tak lain adalah pembuluh darah, muncul di kakinya.

Pengidap fobia ini biasanya juga menghindari aktivitas yang mengeluarkan banyak tenaga karena tak mau pembuluh darahnya sendiri kelihatan. Biasanya, terapi diberikan untukĀ  mengatasi ketakutan pasien pada varises maupun pembuluh darah.

4. Fobia muntah

Foto: thinkstock
Emetophobia yakni perasaan takut muntah atau takut melihat orang lain jatuh sakit tidak banyak didiagnosis meski gangguan kecemasan ini terbilang cukup sering ditemukan. Diperkirakan sebagian besar penderitanya adalah wanita.

Namun efek emetophobia terhadap penderita bisa beragam, hanya saja sebagian besar merasa sangat ketakutan akan jatuh sakit kendati mereka bukanlah tergolong orang-orang yang mudah sakit berkat berbagai cara yang telah mereka tempuh untuk menghindari infeksi apapun.

Tak hanya itu, terkadang penderita pun takut menjadi tak terkontrol ketika sedang sakit atau takut jatuh sakit di tempat umum sehingga memicu munculnya perilaku penghindaran (avoidance). Untuk itu, sebagian besar penderita mempunyai pola makan ketat yang terbebas dari berbagai hal yang dapat menyebabkan sakit perut dan menghindari obat-obatan yang mencantumkan mual sebagai efek sampingnya.

Banyak penderita emetophobia wanita yang juga takut hamil karena mereka khawatir tak dapat mengatasi 'morning sickness' yang terjadi pada wanita hamil setiap hari.

5. Fobia jadi tua

Foto: Getty Images
Ketakutan yang berlebihan terhadap proses penuaan disebut juga gerascophobia. Pada bulan Februari lalu, diketahui ada anak laki-laki berusia 14 tahun yang sangat takut tumbuh menjadi dewasa. Ia bahkan nekat mengekang pertumbuhan fisiknya dengan berhenti makan dan mendistorsi suaranya.

Tak cuma itu, remaja laki-laki ini juga tidak mau berdiri dengan tegak, melainkan membungkuk. Para pakar yakin bahwa remaja laki-laki tersebut merasa perubahan dan perkembangan pada tubuhnya adalah sebuah ancaman.

Psikiater menjelaskan bahwa kemungkinan ada pengalaman pahit yang pernah dirasakan remaja laki-laki itu hingga ia mengalami fobia. Penelitian mengatakan pengalaman di masa lalu juga bisa membuat si remaja laki-laki sangat memusatkan perhatian pada karakteristik fisiknya. Hal itu membuatnya terjebak pada kecemasan dan depresi akan proses pertumbuhan fisiknya.

Beruntung saja akhirnya ia memperoleh penanganan lebih lanjut dengan psikoterapi dan diberikan terapi keluarga, serta diberi antidepresan.
Halaman 2 dari 6
Dalam bidang psikologi, kegelisahan karena matematika cukup banyak diteliti. Untuk beberapa orang, matematika bahkan bisa sampai menjadi fobia. Penjelasan dari fenomena ini ditemukan peneliti yang studinya dipublikasi di American Psychological Association tahun 2011. Bagi beberapa orang disebutkan matematika bisa memicu respon fisik karena tubuh jadi melepaskan hormon stres kortisol.

Studi lainnya di jurnal PLOS One pada tahun 2012 juga menemukan bahwa ketika seseorang mengantisipasi tes matematika, ada bagian spesifik otak yang aktif. Bagian tersebut adalah bagian yang juga aktif ketika seseorang terluka dan mengatur rasa sakit.

"Hasil ini menunjukkan potensi hubungan saraf dan menjelaskan mengapa orang denganHMA (highmathematics-anxiety/
kegelisahan tinggi terhadap matematika) cenderung menghindari matematika," ujar penulis Ian Lyons dari Departemen Psikologi University of Chicago.

Namun, peneliti belum bisa menjelaskan mengapa matematika bisa menghasilkan kegelisahan lebih banyak dibandingkan subjek lain seperti misal geografi atau bahasa. Diduga kuat, sumber rasa gelisah terhadap matematika diprediksi bisa dari guru, ekspektasi kultural, atau genetik.

Tokophobia merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut mereka yang fobia pada proses kehamilan dan juga persalinan. Fobia ini tergolong langka, karena diperkirakan hanya terjadi pada 8 persen wanita saja.

Tokophobia biasa ditemukan pada wanita yang takut dengan rasa sakit akibat melahirkan, meskipun belum pernah mengalaminya, atau wanita yang memiliki pengalaman traumatis dengan persalinan.

Fobia atau ketakutan berlebih terhadap varisesĀ  biasa disebut juga dengan venephobia. Pengidap venephobia bisa ketakutan bukan kepalang ketika ia melihat varises yang tak lain adalah pembuluh darah, muncul di kakinya.

Pengidap fobia ini biasanya juga menghindari aktivitas yang mengeluarkan banyak tenaga karena tak mau pembuluh darahnya sendiri kelihatan. Biasanya, terapi diberikan untukĀ  mengatasi ketakutan pasien pada varises maupun pembuluh darah.

Emetophobia yakni perasaan takut muntah atau takut melihat orang lain jatuh sakit tidak banyak didiagnosis meski gangguan kecemasan ini terbilang cukup sering ditemukan. Diperkirakan sebagian besar penderitanya adalah wanita.

Namun efek emetophobia terhadap penderita bisa beragam, hanya saja sebagian besar merasa sangat ketakutan akan jatuh sakit kendati mereka bukanlah tergolong orang-orang yang mudah sakit berkat berbagai cara yang telah mereka tempuh untuk menghindari infeksi apapun.

Tak hanya itu, terkadang penderita pun takut menjadi tak terkontrol ketika sedang sakit atau takut jatuh sakit di tempat umum sehingga memicu munculnya perilaku penghindaran (avoidance). Untuk itu, sebagian besar penderita mempunyai pola makan ketat yang terbebas dari berbagai hal yang dapat menyebabkan sakit perut dan menghindari obat-obatan yang mencantumkan mual sebagai efek sampingnya.

Banyak penderita emetophobia wanita yang juga takut hamil karena mereka khawatir tak dapat mengatasi 'morning sickness' yang terjadi pada wanita hamil setiap hari.

Ketakutan yang berlebihan terhadap proses penuaan disebut juga gerascophobia. Pada bulan Februari lalu, diketahui ada anak laki-laki berusia 14 tahun yang sangat takut tumbuh menjadi dewasa. Ia bahkan nekat mengekang pertumbuhan fisiknya dengan berhenti makan dan mendistorsi suaranya.

Tak cuma itu, remaja laki-laki ini juga tidak mau berdiri dengan tegak, melainkan membungkuk. Para pakar yakin bahwa remaja laki-laki tersebut merasa perubahan dan perkembangan pada tubuhnya adalah sebuah ancaman.

Psikiater menjelaskan bahwa kemungkinan ada pengalaman pahit yang pernah dirasakan remaja laki-laki itu hingga ia mengalami fobia. Penelitian mengatakan pengalaman di masa lalu juga bisa membuat si remaja laki-laki sangat memusatkan perhatian pada karakteristik fisiknya. Hal itu membuatnya terjebak pada kecemasan dan depresi akan proses pertumbuhan fisiknya.

Beruntung saja akhirnya ia memperoleh penanganan lebih lanjut dengan psikoterapi dan diberikan terapi keluarga, serta diberi antidepresan.

(rdn/up)

Berita Terkait