Obat tidur yang dikenal sebagai zolpidem biasanya digunakan untuk menyembuhkan insomnia. Peneliti menemukan bahwa ketika tikus laboratorium yang mengidap stroke diberikan zolpidem, mereka sembuh lebih cepat dibandingkan tikus yang tidak diberi zolpidem.
Namun penting untuk diketahui, obat ini bekerja lebih efektif ketika diberikan beberapa hari setelah stroke berhasil didiagnosis. Setelah diberi zolpidem, keseimbangan dan ketangkasan tikus yang mengidap stroke lebih cepat kembali. Obat ini diperkirakan dapat memperkuat sinyal kunci untuk perbaikan otak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Studi: Kebanyakan Makan Daging Mentah, Risiko Stroke Bisa Meningkat
Jika diterapkan pada manusia, lanjut dr Quadir, bisa terdapat kemungkinan makin banyak pasien stroke yang bisa mengembalikan lagi kemampuan tubuhnya untuk melakukan berbagai aktivitas harian seperti makan, berpakaian, atau berjalan tanpa bantuan.
Ada lebih dari 15 juta orang di seluruh dunia yang mengidap stroke setiap tahunnya dengan kasus kematian mencapai 6 juta. Pasien yang dapat bertahan pasca mengalami serangan stroke umumnya akan mengalami masalah kelemahan otot dan kelumpuhan yang menyebabkan hilangnya koordinasi dan keseimbangan. Hal ini disebabkan oleh gangguan dalam pasokan darah ke otak.
Selain obat untuk mengurangi kerusakan, fisioterapi menjadi satu-satunya pilihan agar pasien bisa kembali mengembalikan fungsi tubuhnya guna melakukan aktivitas harian, pasca sembuh dari stroke.
Baca juga: Cara Cepat Deteksi Stroke dan Penyakit Jantung (rdn/vit)











































