Setidaknya inilah yang ditemukan tim peneliti dari Cleveland Clinic Lerner Research Institute. Mereka percaya 'mengutak-atik' bakteri dalam usus dapat menghambat munculnya risiko kondisi mematikan tersebut.
Bagaimana caranya? Kesimpulan ini didapat setelah peneliti menemukan sebuah inhibitor atau penghambat alami yang disebut DMB (3,3-dimethyl-1-butanol) yang terkandung dalam minyak zaitun, cuka balsamik, dan minyak biji anggur atau yang biasa ditemukan dalam diet Mediterania.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
TMAO sering dikaitkan dengan risiko penyakit jantung, stroke dan juga aterosklerosis (penumpukan lemak pada dinding arteri). Ini karena TMAO dihasilkan dari sisa cerna zat seperti kolin, fosfatidilkolin (lesitin) dan karnitin yang banyak terkandung dalam produk hewani seperti daging merah (karnitin), daging sapi dan kambing, jeroan, kuning telur serta produk susu tinggi lemak (kolin dan lesitin).
Baca juga: Peneliti AS: Senyawa Kimia dalam Daging Merah Hancurkan Jantung
Pada akhirnya, risiko terjadinya aterosklerosis mereka juga lebih rendah ketimbang yang tidak diberi DMB. Artinya jarang terjadi penumpukan lemak dalam darahnya yang kemudian mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah dan memicu stroke dan kondisi sejenis.
"Meski tidak benar-benar bisa membunuh bakteri dalam usus, tetapi setidaknya DMB ini mencegah terbentuknya produk sampingan yang dihasilkan usus saat mengonsumsi daging," tegas salah satu peneliti, Dr Stanley Hazen seperti dikutip dari Livescience, Senin (28/12/2015).
Hazen bahkan meyakini hasil studi ini dapat membuka jalan ditemukannya terapi alternatif untuk mengatasi berbagai kondisi yang dapat memicu penyakit jantung maupun stroke.
"Tidak menutup kemungkinan untuk penyakit kronis lain seperti diabetes dan obesitas, karena semuanya berkaitan dengan bakteri dalam usus," tutupnya.
Baca juga: Waspadalah, Kolesterol Baik Pun Bisa Jadi Jahat
(lll/up)











































