Ilmuwan Inggris Pastikan Rokok Elektrik Tak Bantu Stop Ngebul

Ilmuwan Inggris Pastikan Rokok Elektrik Tak Bantu Stop Ngebul

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Senin, 18 Jan 2016 17:35 WIB
Ilmuwan Inggris Pastikan Rokok Elektrik Tak Bantu Stop Ngebul
Foto: thinkstock
California - Bukan sekali ini saja ilmuwan berupaya membuktikan tentang mudharat rokok elektrik. Namun entah karena skala studi yang tidak begitu besar atau banyaknya tentangan dari mereka yang pro rokok elektrik, bahaya rokok jenis ini tidak pernah benar-benar dipastikan.

Namun baru-baru ini peneliti dari University of California, San Fransisco melakukan review terhadap 38 studi yang membahas keterkaitan antara penggunaan rokok elektrik dengan keberhasilan upaya seseorang untuk berhenti merokok.

"Ironisnya, berhenti merokok adalah alasan terbesar yang digunakan orang untuk menggunakan rokok elektrik. Tapi secara keseluruhan, efeknya justru tidak banyak yang benar-benar berhenti," ungkap salah satu peneliti, Prof Stanton Glantz.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua tim peneliti, Dr Sara Kalkhoran menegaskan, kebiasaan menghisap rokok elektrik atau biasa disebut 'vaping' justru hanya mengurangi keinginan untuk berhenti merokok konvensional sebesar 28 persen saja. Dan penelitian ini sontak menjadi perhatian dunia, sebab skalanya paling besar di antara semua studi tentang pengaruh rokok elektrik terhadap kebiasaan merokok.

Baca juga: Survei: 40 Persen Perokok Juga Mengisap Shisha, Cerutu dan Rokok Elektrik

Studi ini juga sejalan dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya. Sebelumnya seorang peneliti dari American University of Beirut mengatakan, rokok elektrik malah dapat memicu orang untuk kecanduan merokok sebab nikotin yang dikandungnya tergolong sebagai yang paling adiktif.

Dalam penelitian lain dikatakan, remaja yang tidak pernah merokok kemudian menghisap rokok elektrik justru penasaran dan ingin mencicipi rokok biasa, sehingga memperbesar risikonya menghisap tembakau.

Sementara itu, studi terbaru yang dilakukan University of Cambridge mengungkapkan, anak yang sering disuguhi atau melihat iklan rokok elektrik akan cenderung tertarik membeli dan mencobanya. Apalagi rokok elektrik sering 'dipasarkan' sebagai produk dengan pilihan rasa seperti cokelat dan bubblegum. Demikian seperti dikutip dari Scotsman.com, Senin (18/1/2016).

Fakta ini terbukti di Inggris di mana jumlah vaper (perokok rokok elektrik) anak mengalami kenaikan, dari yang semula hanya 5 persen di tahun 2013, menjadi 8 persen di tahun berikutnya. Padahal negara sudah melarang penjualan rokok elektrik berikut isi ulangnya kepada anak-anak di bawah umur 18 tahun.

Baca juga: Studi: Di Inggris, Jumlah Vaper Anak Meningkat
 
Dikatakan dr Frans Abednego Barus, SpP dari Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI), rokok elektrik lebih berbahaya karena rasa aman yang diciptakannya, jadi seolah-olah menghisap rokok elektrik takkan ada efek sampingnya seperti halnya merokok biasa.

"Terserah isinya mau apa, dari suhunya saja bisa terjadi PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis, red). Elektrik saya katakan tetap merusak sama seperti original. Malah bisa lebih berbahaya karena orang bisa lebih sering menghisap setelah mendapatkan sense of security (rasa aman -red)," tegasnya kepada detikHealth beberapa waktu lalu. (lll/vit)

Berita Terkait