"Tiga puluh persen datang sudah pada fase syok, fase kritis," kata Prof Dr dr Sri Rezeki Hadinegoro Sp.A(K), Kepala Satuan Kerja Demam Berdarah Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam temu media di Jakarta Selatan, Kamis (3/3/2016).
Keterlambatan ini, menurut Prof Sri disebabkan oleh kurangnya pengetahuan orang tua tentang gejala DBD. Beberapa gejala yang sering muncul antara lain demam yang tidak jelas sebabnya, ruam kulit, serta nyeri di kepala, belakang mata, otot, dan persendian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Daun Ubi Jalar Dikabarkan Mujarab Atasi Demam Berdarah, Benarkah?
Masih menurut Prof Sri, saat ini tidak terlalu banyak pasien pada fase ini yang sampai harus dirawat di ICU (Intensive Care Unit). Namun demikian, DBD sebaiknya tetap ditangani sedini mungkin.
"Nggak semua syok bisa diatasi dengan mudah," kata Prof Sri.
Pasien DBD yang datang pada fase syok umumnya membutuhkan perawatan yang lebih mahal dibandingkan jika datang pada fase lebih awal. Demikian juga, masa pemulihan butuh waktu lebih lama. Pada anak-anak, bolos sekolahnya jadi lebih lama.
Baca juga: 46 Orang Terserang DBD di Solo, 1 Tewas Sepanjang 2016 (up/vit)










































