Dari hasil penelitian yang dilakukan University College London, gas tertawa memberikan manfaat bagi mereka yang baru saja mengalami musibah atau kejadian yang memicu trauma.
Hal ini dibuktikan peneliti dengan mengamati 50 partisipan yang kondisi kesehatannya baik, dan diminta menonton dua adegan film berbahasa Prancis yang sarat akan tema kekerasan seperti perkosaan dan pembunuhan secara sadis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelahnya, partisipan dibagi ke dalam dua kelompok. Yang satu dibiarkan menghirup udara biasa, yang satu menghirup kombinasi nitrous oxide atau gas tertawa dengan oksigen selama 30 menit. Ternyata yang menghirup gas tertawa lebih cepat pulih dari perasaan stres dan trauma ketimbang yang tidak.
Baca juga: Hii! Gas Tertawa Ternyata Bisa Sebabkan Kebotakan, Depresi dan Kebutaan
"Sehari setelah mereka menonton film itu, jumlah intrusi yang dialami kelompok dengan gas tertawa berkurang lebih dari 50 persen. Tetapi ini tidak terjadi pada kelompok satunya sampai hari ke-4," ungkap peneliti Dr Ravi Das seperti dikutip dari BBC, Minggu (6/3/2016).
Menurutnya, mereka yang tidak menghirup gas tertawa sebenarnya juga mengalami penurunan trauma tetapi secara bertahap dan lebih lambat daripada yang diberi gas tertawa.
Das menduga, gas tertawa berhasil menghambat kinerja reseptor N-Methyl-D-Aspartate (NMDA) yang bertugas memilah-milah informasi mana yang perlu disimpan dalam otak.
"Sebab bila seseorang menerima 'informasi' yang menghasilkan respons emosional yang kuat, maka ini akan dianggap penting untuk diingat oleh otak, semacam perlu 'di-tag' untuk disimpan," jelasnya.
Baca juga: Tak Tahan Nyeri Saat Melahirkan, Ibu-ibu Ini Minta Pakai Gas Tertawa
Di tahun 2014, tim peneliti dari Washington University, St Louis sudah menemukan manfaat dari gas tertawa untuk alternatif pengobatan bagi penderita depresi parah, terutama yang tidak mempan diterapi dengan obat antidepresan.
Meskipun saat itu percobaan baru dilakukan pada tahap awal, sejumlah partisipan sudah memperlihatkan penurunan gejala depresi hanya dalam kurun dua jam. Ada pula pasien yang benar-benar sembuh dari depresi.
(lll/vit)











































