Seperti diungkapkan seksolog dr Prakash Kothari, seseorang yang aseksual yakni mereka yang tidak memiliki landasan seksual yang terdiri dari dua faktor yakni keinginan dan gairah seksual. Secara medis, kedua hal itu dikatakan dr Kothari tidak dimiliki oleh orang aseksual.
"Dengan kata lain, mereka tidak tertarik secara seksual kepada siapapun, berdasarkan karakteristik mereka. Orang aseksual juga sepenuhnya memiliki organ seks yang lengkap, hanya saja mereka tidak bisa menanggapi rangsangan seksual yang ada. Wanita tidak bisa mengalami pelumasan, pria pun tak bisa ereksi," ungkap dr Kothari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Jika Mengalami 5 Hal Ini, Tandanya Anda Terjebak Sexless Marriage
Ada dua kategoris aseksual seperti diungkapkan dr Kothari yaitu demiseksual dan grayseksual. Demiseksual yaitu orang yang masuk kategori aseksual sampai mereka bertemu dengan orang yang cocok dan 'klop' secara emosional hingga mereka mulai memiliki daya tarik seksual secara bertahap.
Sementara grayseksual yaitu seseorang yang kadang mengalami daya tarik seksual. Sehingga, diibaratkan dr Kothari, grayseksual berada di antara seksual dan aseksual. Kemudian, kadang mereka punya daya tarik seksual dan kadang tidak. Dalam sebuah hubungan, orang dalam kategori grayseksual tidak peduli dengan hubungan seks dan daya tarik seksual mereka rasakan pada momen-momen tertentu saja.
"Belum bisa dipastikan mengapa seseorang bisa menjadi aseksual. Saya hanya berpikir bahwa beberapa orang memang dilahirkan dengan kondisi ini. Menurut beberapa ilmuwan gen memainkan peran utama dalam orientasi seks seseorang," kata dr Kothari.
Dalam keseharian, menurut dr Kothari kebanyakan orang tidak menyadari tentang aseksualitas karena tidak terlalu paham dan peduli. Sehingga, kesadaran dan pendidikan soal aseksualitas penting karena dapat membantu orang yang tidak memiliki daya tarik seksual tetap nyaman dengan diri mereka. Adanya pendidikan dan kesadaran soal aseksualitas juga diharap bisa membuat mereka lebih ekspresif dan jujur tentang perasaannya, tanpa takut terasing atau menimbulkan kesalahpahaman.
Baca juga: Jarang Bercinta di Usia Lanjut Berdampak Buruk Bagi Kesehatan? Belum Tentu
(rdn/up)











































