Bersama dua temannya, Hilda membuat obat tersebut. Inspirasi datang dari kepercayaan orang-orang tua di Tasikmalaya yang kerap merebus kulit salak untuk mengatasi diabetes.
"Awalnya dari kepercayaan orang-orang tua, ternyata setelah kita teliti dalam kulit salak yang diekstraksi ada zat aktif simplisia. Itu sangat baik untuk menyembuhkan gula darah," katanya kepada detikHealth, Rabu (20/4/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk produksi massal, lanjut Hilda, dirinya mengumpulkan kulit salak dengan membeli sisa salak jenis Manonjaya yang banyak dibuang petani di daerah Tasikmalaya.
"Kalau salak manonjaya kadang dibuang karena jelek, kulitnya kita ambil. Harga salaknya kan hanya Rp 500/kg. Kita olah jadi serbuk dan kemudian diekstrak untuk dibuat bubuk atau tablet kapsul," ujar mahasiswa Jurusan Farmasi Institut Tekhnologi Bandung (ITB) ini.
![]() |
Hilda menuturkan, kulit salak ini sudah terbukti menurunkan atau menormalkan gula darah. Dirinya sudah mencoba pada tikus percobaan yang telah diberikan makanan dengan kadar gula tinggi.
"Gulanya dari level 210 pada pada tikus setelah kita beri makanan manis dosis tinggi, langsung turun normal di bawah 100 setelah makan ekstrak kulit salak. Pada manusia juga sama," terangnya.
Baca juga: Kolagit dan Hilangnya Momentum Pengobatan
(vit/vit)












































