Studi Ini Sebut Yoghurt dan Kubis Bisa Jadi Antikanker

Studi Ini Sebut Yoghurt dan Kubis Bisa Jadi Antikanker

Hillariana Ikhlash Devani - detikHealth
Kamis, 21 Apr 2016 16:43 WIB
Studi Ini Sebut Yoghurt dan Kubis Bisa Jadi Antikanker
Foto: Thinkstock
Jakarta - Seperti diketahui, yoghurt, dibuat dari susu fermentasi. Sementara, sauerkraut adalah kubis fermentasi yang sangat populer di Jerman. Nah, menurut studi terbaru, kedua makanan rumahan ini bisa membantu melawan kanker. Bagaimana cara kerjanya?

Menurut studi dari Univeristy California Los Angeles, baik yoghurt maupun kubis fermentasi dapat digunakan sebagai penangkal kanker, dengan cara meningkatkan bakteri anti-inflamasi yang tinggal di usus. Bakteri inilah yang kemudian dapat memperlambat atau menghentikan perkembangan beberapa jenis penyakit kanker.

"Di masa depan, kami berharap bisa menganalisis bakteri di dalam usus dan meresepkan 'probiotik' untuk meningkatkan bakteri yang dapat menurunkan risiko kanker," ujar Profesor Dr Robert Schiestl.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usus diketahui mengandung triliunan bakteri baik yang memiliki sifat anti-inflamasi, walaupun terkadang buruk karena dapat meningkatkan peradangan. Akan tetapi, menurut Prof Schiestl  pengobatan ini tidak akan bersifat menyerang tubuh atau menimbulkan peradangan, serta akan lebih mudah dilakukan.

Baca Juga: DNA Tumpang Tindih, Penyandang Autis Justru Berisiko Kecil Terserang Kanker

Isolasi bakteri yang disebut lactobascillus johnsonii 456 pun dilakukan untuk memberi bukti yang lebih akurat terhadap penelitian ini. Hasilnya bakteri baik yang jumlahnya paling banyak di dalam tubuh ini terbukti mengurangi kerusakan gen.

"Mereka secara signifikan juga mengurangi peradangan dalam banyak penyakit termasuk kanker, penyakit jantung, arthritis, lupus, dan proses penuaan," ucap Profesor Schiestl, dikutip dari Express, Rabu (20/4/2016).

Di masa depan, Schiestl juga berharap kedua bahan ini bisa dimanfaatkan dalam produksi suplemen probiotik yang bisa menunda dan menurunkan risiko penyakit, termasuk kanker.

"Temuan ini memberikan harapan tentang gagasan memanipulasi komposisi mikroorganisme. Kemudian menggunakannya sebagai strategi yang efektif untuk mencegah atau meringankan kanker," ujar Prof Schiestl yang menerbitkan studinya ini di Jurnal Plos One.

Baca Juga: Wanita Ini Klaim ASI Mampu Perpanjang Umur Ayahnya yang Kena Kanker
(rdn/vit)

Berita Terkait