Studi terbaru yang dilakukan peneliti di India menyoroti efek berbahaya akibat polusi di dalam ruangan. Menurut salah satu peneliti, Prashant Kumar dari Surrey University, studi yang ia lakukan bersama timnya menemukan konsep 'Sick Building Syndrome' yang berkaitan dengan kualitas udara di dalam ruangan.
"Bicara polusi udara, orang akan memikirkan asap knalpot atau pabrik di luar sana. Tapi sebenarnya, ada berbagi sumber pencemaran di dalam rumah atau kantor kita. Mulai dari asap saat memasak, residu cat atau pernis, kemudian spora jamur yang dihirup dari dalam ruangan," tutur Kumar seperti dikutip dari berbagai sumber.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Hidup di Kota dengan Polusi Udara Tinggi? Begini Cara Menyiasatinya
Untuk itu, Kumar menekankan pentingnya pengawasan terhadap kualitas udara di dalam ruangan. Salah satunya, dengan memperhatikan bagaimana struktur sebuah bangunan, ventilasi bangunan tersebut, peralatan elektronik yang digunakan, dan aktivitas di dalamnya. Jangan lupa pula Kumar menyarankan agar merawat kebersihan alat-alat elektronik yang digunakan, khususnya yang terkait dengan pertukaran udara di dalam ruangan seperti AC atau kipas angin.
Dalam studi Kumar yang lain, disebutkan bahwa polusi udara di luar ruangan lebih tinggi ketika sebuah bangunan terletak di persimpangan lalu lintas. Bahkan, ketika volume kendaraan lebih sedikit, tingkat polusi di area tersebut dua kali lebih tinggi.
"Selain itu, tinggal di lantai dasar rumah dengan dua lantai pun membuat penghuninya terpapar lebih banyak polusi udara dari luar. Nah, studi ini bisa diaplikasikan dalam perencanaan pembangunan di mana perlu dipertimbangkan banyak hal sebelum Anda membuat sebuah bangunan," kata Kumar.
Studi yang dilakukan Kumar bersama tim peneliti dari Eropa, Australia, dan Inggris ini telah diterbitkan di jurnal Science of the Total Environment.
Baca juga: Studi: Polusi Udara Bisa Picu Asma pada Anak dan Remaja
(rdn/vit)











































