Hasil observasi yang dilakukan selama 18 bulan oleh CDC melihat partisipan dengan cedera otak rata-rata memiliki waktu tidur yang lebih panjang satu jam dibandingkan populasi umumnya. Selain itu sebanyak 67 persen partisipan melaporkan juga sering merasa ngantuk berlebih di siang hari.
Pemimpin studi dan ahli neurologi Dr Lukas Imbach mengatakan data yang diperoleh tersebut sejalan dengan studi sebelumnya yang menyebut orang dengan cedera otak akan mengalami masalah tidur. Hanya saja pada studi kali ini diteliti benar data masalah apa saja yang muncul.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tingkat keparahan, insiden, dan penyebab gangguan tidur masih belum banyak diketahui," kata Imbach seperti dikutip dari Live Science.
"Kebanyakan studi hanya melihat partisipan selama enam bulan setelah alami cedera otak karena diasumsikan efeknya akan pudar semakin lama. Tapi dari studi ini kita bisa lihat setidaknya masalah tidur bisa tetap ada bahkan setelah 18 bulan," lanjut Imbach.
Apa yang menyebabkan masalah tidur pada cedera otak belum dapat dipastikan. Imbach mengatakan kemungkinan masalah bisa jadi serius karena tidur berhubungan erat dengan bagaimana seseorang bisa berfungsi dengan baik pada hari berikutnya ketika terbangun.
"Penyebab dari masalah tidur ini belum diketahui, tapi kami berencana untuk meneliti ke arah itu," pungkas Imbach yang mempublikasi studinya di jurnal Neurology.
Baca juga: Studi: Orang yang Gemar Kegiatan Berbahaya Punya Otak Lebih Tipis
(fds/vit)











































