Dokumen Vaksinasi Palsu Jadi Biang Keladi Wabah Demam Kuning di Angola

Dokumen Vaksinasi Palsu Jadi Biang Keladi Wabah Demam Kuning di Angola

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Senin, 13 Jun 2016 10:03 WIB
Dokumen Vaksinasi Palsu Jadi Biang Keladi Wabah Demam Kuning di Angola
pasien demam kuning di Angola (Foto: africanews.com)
Jakarta - Demam kuning yang mewabah di Angola sudah menewaskan 325 orang dan menginfeksi hampir 3.000 penduduk. Investigas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan dokumen vaksinasi palsu adalah biang keladinya.

Perwakilan WHO untuk Angola, Hernando Agudelo, mengatakan tanda-tanda mewabahnya demam kuning di Angola sudah terlihat sejak pertengahan bulan Desember 2015. Beberapa orang diketahui mengidap penyakit misterius dan bisa menyebabkan kematian.

"Pasien-pasien awal memiliki gejala yang mirip dengan demam kuning, namun anehnya mereka memiliki dokumen yang menyatakan sudah melakukan vaksinasi. Pemerintah pun bingung dan bersiap siaga untuk melawan penyakit misterius," tutur Agudelo, dikutip dari Reuters, Senin (13/6/2016).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Waspada Demam Kuning, Kongo Perketat Perbatasan dengan Angola

Merebaknya wabah Ebola di Afrika Barat tahun lalu menjadi alasan Angola melakukan investigasi ketat. Diketahui, pasien pertama yang dilaporkan mengidap penyakit ini bekerja di sebuah restoran di distrik Viana, kota Luanda.

"Kami melakukan investigasi dan mengetahui bahwa sebagian besar pekerja merupakan imigran yang berasal dari Eritrea. Mereka ternyata memasuki wilayah Angola dengan menggunakan dokumen vaksinasi palsu," tambahnya lagi.

Eritrea merupakan negara pecahan Ethiopia yang berdekatan dengan Angola. Para imigran memilih untuk mengadu nasib keluar dari Eritrea karena pemerintahannya yang terkenal sangat menutup diri.

Untuk bisa memasuki wilayah Angola, para imigran diwajibkan memiliki dokumen yang mengatakan mereka sudah mendapat vaksinasi untuk beberapa penyakit, termasuk demam kuning. Agudelo meyakini dokumen yang dibawa para imigran Eritrea palsu dan menyebabkan penyakit demam kuning lebih mudah menular.

"Jika saja para imigran tidak memiliki dokumen palsu, kami pasti bisa mengurung demam kuning di Luanda sehingga tidak menjadi wabah nasional seperti sekarang," ungkapnya.

Baca juga: Peneliti Waspadai Demam Kuning di Angola Menyebar ke Seluruh Dunia

(mrs/vit)

Berita Terkait