"Keinginan tersebut dipicu oleh hormon dopamin. Dopamin pada otak akan berpindah dan neurotransmitter membawa sinyal di antara neuron pada sistem reward. Sedangkan sistem reward berperan meningkatkan nafsu makan," tutur dr Valeria Mondelli, dosen senior kedokteran psikologi di King College London.
Dijelaskan dr Mondelli, pada saat stres, hormon kortisol meningkat di tubuh dan menghambat penguraian lemak. Sehingga, kadar lemak pada tubuh tertimbun dan menyebabkan peningkatan berat badan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Letak pengendapan lemak pada tubuh berkaitan dengan stres. Orang yang mudah menghadapi stres memiliki kemungkinan lebih kecil memiliki lemak visceral (lemak di bagian perut) yang memiliki risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2," ujar dr Leigh Gibsin, dosen psikologi dan fisiologi di University of Roehampton, dikutip dari Telegraph.
Sedangkan, dilansir Daily Mail, menurut pakar diet, Sally Norton, mengonsumsi makanan berlebih tidak masalah jika orang tersebut juga melakukan aktivitas fisik. Namun yang bermasalah adalah jika orang tersebut lantas berdiam diri dan terlalu banyak duduk, maka akan berisiko kelebihan berat badan dan obesitas.
Selain itu, dokter spesialis jantung Chauncey Crandall, MD menyarankan untuk mencari waktu yang tepat saat ingin mengonsumsi makanan. Ia mengatakan, sebaiknya tidak makan di saat sedang benar-benar stres. Kemudian, atasi stres dengan mencari kesenangan lain agar kalori tetap terkontrol, demikian dilansir News Max Health.
Baca juga: 6 Efek Berbahaya Stres pada Kesehatan Tubuh Anda (rdn/vit)











































