Ortu Tak Waspada, Baby Carrier dan Stroller Sebabkan 2 Anak Masuk IGD Tiap Satu Jam

Ortu Tak Waspada, Baby Carrier dan Stroller Sebabkan 2 Anak Masuk IGD Tiap Satu Jam

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Jumat, 19 Agu 2016 13:08 WIB
Ortu Tak Waspada, Baby Carrier dan Stroller Sebabkan 2 Anak Masuk IGD Tiap Satu Jam
Foto: thinkstock
Jakarta - Baby carrier dan stroller membuat anak mudah dibawa ketika bepergian. Namun studi terbaru mengungkap, penggunaan alat ini diketahui rentan menyebabkan anak cedera jika tidak digunakan dengan hati-hati.

Risiko cederanya pun tak main-main. Peneliti Kristin Roberts dari The Research Institute di Nationwide Children's Hospital, Colombus, Ohio, Amerika Serikat, menyebut hasil penelitian menemukan dalam setahum, ada lebih dari 17.000 kasus cedera anak yang akhirnya dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dalam waktu akibat penggunaan stroller dan baby carrier.

"17.000 Kasus cedera per tahun sama dengan 50 anak tiap harinya. Dengan kata lain, ada 2 anak yang dilarikan ke IGD tiap satu jam karena cedera akibat stroller atau baby carrier. Ini jumlah yang tidak sedikit," tutur Kristin, dikutip dari Reuters.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penelitian Kristin dilakukan dengan melihat data cedera pada anak berusia 5 tahun ke bawah. Data diambil dari National Electronic Injury Surveillance System sejak tahun 1990 hingga 2010. Selama periode penelitian, total kasus cedera anak yang dilarikan ke IGD akibat stroller dan baby carrier berjumlah 360.937.

Baca juga: Ini Bahaya Menutup Stroller dengan Selimut Agar Anak Tak Kena Sinar Matahari

Hasil penelitian menemukan risiko cedera terbesar ada pada anak laki-laki yang berusia di bawah satu tahun. Kepala dan wajah menjadi bagian tubuh yang paling rentan cedera, diduga akibat jatuh dari carrier atau stroller.

Sekitar 40 persen cedera akibat stroller merupakan memar atau luka ringan dan 25 persen merupakan luka di kepala dan gegar otak. Untuk carrier, 48 persen merupakan memar dan luka ringan. Di sisi lain, persentase cedera kepala lebih tinggi, yakni 35 persen.

Anak yang mengalami cedera karena carrier juga lebih berisiko menjalani rawat inap, dengan persentase 7 persen, dibandingkan anak yang cedera akibat stroller yang persentasenya hanya 2 persen. Mereka yang menjalani rawat inap biasanya merupakan pasien cedera kepala dan gegar otak.

Kristin mengatakan hasil penelitiannya bisa jadi belum merepresentasikan kejadian cedera akibat stroller dan carrier secara lengkap. Hal ini dikarenakan data yang diambil hanya cedera yang dibawa ke IGD.

"Masih banyak anak yang cedera akibat stroller ataupun carrier namun tidak mendapat perawatan di rumah sakit. Untuk itu, peran orang tua dalam menjaga anak ketika menggunakan stroller dan carrier harus maksimal," tuturnya dalam jurnal Academic Pediatrics.

Ia juga menyarankan agar orang tua mengetahui batas-batas keamanan dalam penggunaan stroller dan carrier. Misalnya dengan tidak menaruh tas di stroller atau menggendong bayi di carrier tanpa dipegang.

Baca juga: Lari-lari Sambil Mengasuh Anak? Bisa Lho (mrs/vit)

Berita Terkait