dr Hepi dan Suka Dukanya Mengajari Murid TK sampai SMA tentang Kesehatan

Doctor's Life

dr Hepi dan Suka Dukanya Mengajari Murid TK sampai SMA tentang Kesehatan

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Jumat, 19 Agu 2016 14:02 WIB
dr Hepi dan Suka Dukanya Mengajari Murid TK sampai SMA tentang Kesehatan
dr Hepi/ Foto: Radian Nyi Sukmasari
Jakarta - dr Hepi Novlina (35) menjadi salah satu anggota tim pembina UKS dari Puskesmas Babadan, Indramayu. Untuk itu, ia pun kerap berinteraksi dengan murid-murid dari tingkat TK sampai SMA untuk mengajarkan materi tentang kesehatan baik di lingkungan sekolah maupun secara umum.

Suka duka pun ia alami ketika membina para murid. dr Hepi mengungkapkan, untuk murid TK sampai SD maka pembinaan dilakukan melalui dokter kecil. Sementara, bagi mereka yang duduk di bangku SMP sampai SMA, akan dibuat kader kesehatan remaja dan ada pula kelompok pelayanan (kopel) kesehatan remaja. Materi yang diajarkan termasuk trias UKS yaitu pendidikan kesehatan di sekolah, pelayanan kesehatan di sekolah, dan kesehatan lingkungan sekolah.

"Masing-masing punya tingkat kesulitan beda-beda ya waktu diajari. Kalau untuk anak TK atau SD namanya masih anak-anak, mereka habis diajari misalnya cuci tangan yang benar. Tapi setelah itu habis cuci tangan, megang sesuatu, eh dia makan apa lagi gitu. Jadi lebih ke disiplin sih, pembiasaan," tutur dr Hepi saat berbincang dengan detikHealth usai Pengumuman Lomba Sekolah Sehat di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (18/8/2016).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Memang, untuk para dokter kecil, materi yang diajarkan lebih berfokus pada bagaimana mereka diajari untuk mensosialisasikan gaya hidup sehat yang bermula dari dirinya sendiri kemudian di lingkungan keluarga. Misalnya saja para siswa TK dan SD ini diajari bagaimana cara mencuci tangan dan sikat gigi yang benar, lalu memeriksa jentik.

Baca juga: Cerita Dokter Kecil: Bantu Teman yang Luka Hingga Pergoki yang Pura-pura Sakit

Di kopel kesehatan remaja, sesama murid mereka bisa saling berbagi. Contohnya ketika ada masalah terkait bullying, ada siswa yang cukup pintar tapi tak punya teman, atau siswa yang memiliki keluhan seputar haid. Mereka pun tak perlu langsung pergi ke puskesmas jika memang dalam kopel tersebut masalah bisa diselesaikan dengan bantuan pihak sekolah.

dr Hepi mengatakan, untuk membina kopel maka tim harus memberi materi yang bagus dan benar-benar 'mengena' pada remaja. Apalagi mereka juga banyak mendapat informasi dari internet. Sehingga, susah-susah gampang ketika menjelaskan pada remaja soal sesuatu yang sebenarnya belum waktunya dibicarakan tetapi sebisa mungkin dikemas supaya tidak tabu.

"Contohnya kesehatan reproduksi soal seks pranikah. Kita ajari bahayanya apa. Kalau kondom, kita bahas sebagai alat kontrasepsi untuk nanti setelah menikah. Jadi nggak gamblang banget kita jelasinnya tapi siswa bisa melakukan upaya preventif untuk mencegah hal-hal seperti itu," kata dr Hepi.

Secara pribadi, dr Hepi lebih senang mengajari anak-anak TK atau SD. Sebab, ia berpendapat jika sejak kecil anak sudah diajari disiplin hidup sehat, ke depannya maka akan lebih mudah bagi mereka untuk menerapkan gaya hidup sehat sekaligus menularkannya kepada orang lain.

Lantas, apa yang membuat dr Hepi semangat membina para pelajar untuk bisa menerapkan gaya hidup sehat? "Selain memang tugas, kedua kayak naluri saya sebagai ibu pengen anaknya melakukan sesuatu yang benar. Karena kebetulan anak saya masih kecil-kecil, jadi dimulai dulu deh dari anak orang lain," katanya sembari tertawa.

Ibu dua anak ini juga mengatakan ketika murid binaannya bisa menerapkan gaya hidup sehat dan bahkan menularkannya pada orang lain, ia merasa hasil kerja kerasnya mendidik si anak 'terbayar sudah.

"Itu menunjukkan bahwa mereka pun aware. Jadi ya memang puas banget. Kayak SMAN 1 Sindang yang saya bina dan menang Lomba Sekolah Sehat tahun ini, itu membuat saya merasakan kepuasan tersendiri," pungkas dr Hepi.

Baca juga: UKS 'Dihidupkan' Lagi, Kesehatan Masyarakat Diharapkan Meningkat

(rdn/vit)

Berita Terkait