Studi: Kelamaan Bertubuh Gemuk, Risiko Kanker Melonjak

Studi: Kelamaan Bertubuh Gemuk, Risiko Kanker Melonjak

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Senin, 22 Agu 2016 14:02 WIB
Studi: Kelamaan Bertubuh Gemuk, Risiko Kanker Melonjak
Foto: thinkstock
Jakarta - Begitu bobot naik, segera lakukan perbaikan pola makan dan olahraga untuk mengembalikan tubuh ke bobot ideal. Ini bukan tanpa alasan, sebab penelitian terbaru mengungkap kegemukan yang dibiarkan terlalu lama bisa meningkatkan risiko kanker.

Ironisnya, risiko semacam ini lebih banyak dihadapi oleh wanita. Temuan didasarkan pada hasil pengamatan terhadap 73.913 wanita di penjuru AS, terutama indeks massa tubuhnya, aktivitas fisiknya, pola makan atau dietnya, kebiasaan merokok, penggunaan obat-obat hormonal serta riwayat diabetes dan kanker yang mereka miliki.

Data yang diperoleh memiliki rentang waktu hingga 12 tahun, dan dalam kurun waktu tersebut 6.301 partisipan dilaporkan mengidap kanker yang ada kaitannya dengan kegemukan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari situ peneliti mengambil kesimpulan bahwa untuk tiap 10 tahun kegemukan, maka seorang wanita berisiko mengalami berbagai jenis yang berkaitan dengan berat badan sebesar 7 persen.

Sedangkan risiko terserang kanker pasca menopause bisa mencapai 5 persen untuk kanker payudara dan 17 persen untuk kanker endometrium. Demikian seperti dilaporkan CNN.

"Secara biologis ini masuk akal, sebab makin dini dan makin panjang periode kegemukannya maka semakin memicu munculnya sejumlah faktor risiko semisal hipertensi, resistensi insulin, peradangan kronis, kerusakan DNA dan perubahan metabolisme hormon," kata peneliti Melina Arnold dari International Agency for Research on Cancer, WHO.

Namun Arnold belum tahu pasti apakah studi ini juga berlaku bagi mereka yang berhasil menurunkan bobotnya dalam jangka waktu tertentu, meski kemudian menggemuk lagi.

Baca juga: Kegemukan Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Kolorektal, Masih Malas Olahraga?

Menanggapi studi ini, Dr Anne McTiernan dari Fred Hutchinson Cancer Research Center, Seattle mengatakan baik pria maupun wanita sama-sama dihadapkan pada risiko kanker jika tubuh mereka kelebihan berat badan atau obesitas.

Namun di sisi lain, perbaikan pola makan memang lebih berdampak terhadap penurunan berat badan sekaligus risiko kanker ketimbang olahraga. Hal ini telah dibuktikannya dalam sebuah studi terpisah.

"Walaupun bobotnya hanya turun 5-10 persen saja, berbagai faktor yang bisa mendorong tumbuhnya kanker seperti estrogen, testosterone, insulin, biomarker yang berkaitan dengan peradangan dan penanda angiogenesis juga berkurang drastis," tegasnya.

Baca juga: Risiko Kematian Akibat Kegemukan Masih Membayangi Meski Bobot Turun

(lll/vit)

Berita Terkait