detikhealth

Jika Setipe dengan Dengue, Mengapa Cuma Zika yang Memicu Mikrosefali?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Kamis, 08/09/2016 16:37 WIB
Jika Setipe dengan Dengue, Mengapa Cuma Zika yang Memicu Mikrosefali?Foto: Reuters
Jakarta, Keterkaitan virus Zika dengan mikrosefali dan gangguan neurologis lainnya menjadi topik hangat di kalangan peneliti. Terlebih, kerabatnya sesama flavivirus yakni Dengue tidak sekalipun dikaitkan dengan penyakit-penyakit menyeramkan tersebut.

Zika mulai banyak dikaitkan dengan mikrosefali saat terjadi outbreak di Brazil beberapa waktu lalu. Saat itu, peningkatan kasus infeksi Zika dibarengi dengan peningkatan kasus mikrosefali pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang positif terinfeksi Zika.

Berbagai penelitian dilakukan untuk mengungkap bagaimana Zika dan mikrosefali bisa saling berhubungan. Organisasi kesehatan dunia WHO secara resmi telah menyebut ada bukti kuat yang mengaitkan Zika sebagai penyebab mikrosefali maupun gangguan neurologis lain seperti Gullain Barre Syndrome (GBS).

Namun jika dilihat riwayatnya, Zika bukanlah virus baru. Virus ini pertama kali diisolasi dari Hutan Zika di Uganda, lalu tercatat pernah beberapa kali memicu outbreak atau wabah di wilayah Pasifik. Bahkan, jejak keberadaannya di Indonesia pernah beberapa kali terdeteksi.

Menariknya lagi, Zika masih berkerabat dengan virus lain yang banyak memicu wabah di wilayah tropis yakni Dengue. Sama seperti Zika, virus penyebab demam berdarah ini juga termasuk keluarga flavivirus dan sama-sama ditularkan oleh nyamuk Aedes.

Baca juga: Ancaman Zika Meluas, Anjuran 'Puasa' Seks Makin Diperketat

Foto: BBC Magazine

Jika dengan Dengue masih berkerabat, mengapa cuma Zika yang dikaitkan dengan gangguan neurologis? Pertanyaan ini masih menjadi tabir misteri yang akan terus dicari jawabannya oleh para peneliti di seluruh dunia.

"Ada satu penelitian yang mengaitkannya dengan half life Zika yang lebih lama. Artinya viremia (masa selama virus ada dalam tubuh) Zika lebih lama, dan pada saat lebih lama itu bisa memicu inflamasi dan sebagainya," kata dr Teguh Sarry Hartono, SpMK, peneliti mikrobiologi dari RS Pusat Infeksi Sulianti Saroso, Kamis (8/9/2016).

Pada pembicaraan tentang virus, half life mengacu pada waktu yang dibutuhkan hingga setengah dari populasi virus menghilang. Dibandingkan virus Dengue, virus Zika disebut-sebut punya half life yang lebih panjang sehingga risiko mengakibatkan kerusakan jadi lebih besar.

"Tapi itu belum bisa dipastikan juga, sebab secara statistik ternyata tidak terlalu bermakna," lanjut dr Teguh.

Anggapan selama ini bahwa Zika tidak lebih berbahaya dibandingkan Dengue menjadi tantangan lain untuk mengungkap misteri tersebut. Data dan penelitian tentang Zika tentu tidak sebanyak Dengue. Belum lagi, hingga saat ini belum ada satupun pemeriksaan yang benar-benar spesifik untuk mengidentifikasi infeksi Zika.

Baca juga: Tes Zika Sulit dan Mahal, Pemeriksaan di Indonesia Masih 'Pilih-pilih' (up/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit