4 Masalah Kesehatan yang Bisa Anda Alami Jika Pergi ke Luar Angkasa

4 Masalah Kesehatan yang Bisa Anda Alami Jika Pergi ke Luar Angkasa

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Jumat, 28 Okt 2016 08:10 WIB
4 Masalah Kesehatan yang Bisa Anda Alami Jika Pergi ke Luar Angkasa
Foto: Thinkstock
Jakarta - Luar angkasa menyimpan banyak misteri yang menggugah keinginan bertualang. Namun waspada, pergi ke luar angkasa bisa timbulkan banyak masalah kesehatan.

Saat ini, bepergian ke luar angkasa hanya bisa dilakukan jika Anda berprofesi sebagai astronot. Hanya saja, penelitian serta inovasi soal jalan-jalan ke luar angkasa sudah banyak digaungkan, meski belum ada yang benar-benar memberikan bukti.

Untuk menjadi astronot pun tidak mudah. Dibutuhkan fisik dan ketahanan tubuh yang prima agar astronot bisa menjalan fungsinya dengan baik di luar angkasa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu, apa saja sih masalah-masalah kesehatan yang mungkin dialami astronot? Dirangkum detikHealth dari berbagai sumber, berikut 4 di antaranya:

Baca juga: Pulang dari Jelajah Luar Angkasa, Astronot Bisa Alami Demensia Kronis

1. Sinar kosmik sebabkan gangguan jantung

Foto: Thinkstock
Sebuah penelitian mengungkap, astronot yang ditugaskan jauh dari orbit Bumi berpeluang lebih besar untuk mengalami gangguan jantung ketimbang mereka yang misinya tidak jauh-jauh dari Bumi.

Kesimpulan ini didapat setelah membandingkan kondisi dua kelompok astronot; 42 astronot yang pernah ditugaskan untuk menjalani misi luar angkasa dan 35 astronot yang belum pernah ditugaskan ke manapun.

Secara mengejutkan, 43 persen astronot yang pernah menjalani misi keluar orbit Bumi dilaporkan meninggal akibat penyakit jantung. Bila dibandingkan dengan mereka yang hanya dikirim dalam sebuah misi 'low orbit' atau tak jauh-jauh dari orbit Bumi dan meninggal karena penyakit jantung, jumlahnya hanya 11 persen dan 9 persen untuk astronot yang belum pernah ke luar angkasa.

Menurut peneliti, penyebabnya adalah karena di luar orbit Bumi terdapat sinar-sinar kosmik yang berasal dari seluruh penjuru galaksi dan berpotensi merusak jaringan tubuh manusia bila teradiasi atau terpapar.

Apalagi ketika si astronot ditugaskan ke luar dari orbit Bumi, mereka tidak lagi mendapatkan perlindungan dari atmosfer, sehingga mereka lebih rentan terpapar radiasi tingkat tinggi. Inilah yang kemudian memicu penyakit jantung pada astronot.

2. Partikel energi sebabkan demensia

Foto: Thinkstock
Peneliti meyakini bahwa paparan partikel energi dalam jumlah besar, seperti halnya yang ditemukan di luar angkasa, dapat berdampak pada otak astronot atau penjelajah luar angkasa.

Kesimpulan diperoleh setelah peneliti menyinari beberapa ekor tikus dengan partikel radiasi di Space Radiation Laboratory milik NASA di News York. Berikutnya, tikus-tikus tersebut dipindahkan ke lab milik milik UCI.

Dari waktu ke waktu, tim peneliti menemukan terjadinya peradangan otak yang signifikan pada otak tikus, bahkan hingga enam bulan selepas penyinaran. Kerusakan yang dimaksud persis seperti yang terlihat pada otak manusia yang mengalami demensia dan gangguan kognitif lainnya.

Komplikasi yang dimaksud di antaranya penurunan daya ingat, ansietas atau gangguan kecemasan, depresi dan terganggunya proses pengambilan keputusan.

Baca juga: Pernah Keluar dari Orbit Bumi, Ini Bahayanya bagi Astronot

3. Gravitasi rendah turunkan massa tulang

Foto: Thinkstock
Kondisi minim gravitasi di luar angkasa juga membuat seorang astronot berisiko mengalami penurunan massa otot dan tulang. Alasannya karena kedua jaringan tersebut lama tak terstimulasi akibat gravitasi membuat semua serba ringan.

Studi melihat dalam waktu 5-11 hari seorang astronot bisa kehilangan sampai 20 persen massa ototnya dan dalam sebulan 10 persen massa tulang.

"Dalam lingkungan gravitasi mikro, karena berkurangnya rangsangan, ada peningkatan resorpsi tulang dan penurunan formasi tulang yang berujung pada hilangnya massa tulang pada tingkat sekitar 10 kali lipatnya osteoporosis," kata peneliti medis Hiroshi Ohshima, seperti dikutip dari situs resmi National Aeronautics and Space Administration (NASA).

Oleh karena itu untuk meminimalkan dampak masalah kesehatan seorang astronot harus menghabiskan banyak waktunya berolahraga. Tapi tetap ketika kembali ke bumi butuh waktu sekitar 3-4 tahun untuk mengembalikan tubuh ke kondisi semula meski tak bisa 100 persen seperti sedia kala.

4. Gangguan pada sistem imun

Foto: Thinkstock
Ahli imunologi NASA Brian Crucian melanjutkan kadang seorang astronot rentan juga alami masalah pada sistem imunnya. Perilaku sistem imun bernama sel T bisa berubah menjadi lebih terganggu aktivasinya.

"Hal-hal seperti radiasi, mikroba, stres, gravitasi mikro, perubahan pola tidur, dan isolasi semua dapat berdampak pada sistem imunitas kru," ungkap Crucian.

"Bila kondisi ini terjadi pada misi luar angkasa yang berlangsung lama akan ada peningkatan risiko untuk infeksi, hipersensitif atau masalah autoimun," pungkasnya.
Halaman 2 dari 5
Sebuah penelitian mengungkap, astronot yang ditugaskan jauh dari orbit Bumi berpeluang lebih besar untuk mengalami gangguan jantung ketimbang mereka yang misinya tidak jauh-jauh dari Bumi.

Kesimpulan ini didapat setelah membandingkan kondisi dua kelompok astronot; 42 astronot yang pernah ditugaskan untuk menjalani misi luar angkasa dan 35 astronot yang belum pernah ditugaskan ke manapun.

Secara mengejutkan, 43 persen astronot yang pernah menjalani misi keluar orbit Bumi dilaporkan meninggal akibat penyakit jantung. Bila dibandingkan dengan mereka yang hanya dikirim dalam sebuah misi 'low orbit' atau tak jauh-jauh dari orbit Bumi dan meninggal karena penyakit jantung, jumlahnya hanya 11 persen dan 9 persen untuk astronot yang belum pernah ke luar angkasa.

Menurut peneliti, penyebabnya adalah karena di luar orbit Bumi terdapat sinar-sinar kosmik yang berasal dari seluruh penjuru galaksi dan berpotensi merusak jaringan tubuh manusia bila teradiasi atau terpapar.

Apalagi ketika si astronot ditugaskan ke luar dari orbit Bumi, mereka tidak lagi mendapatkan perlindungan dari atmosfer, sehingga mereka lebih rentan terpapar radiasi tingkat tinggi. Inilah yang kemudian memicu penyakit jantung pada astronot.

Peneliti meyakini bahwa paparan partikel energi dalam jumlah besar, seperti halnya yang ditemukan di luar angkasa, dapat berdampak pada otak astronot atau penjelajah luar angkasa.

Kesimpulan diperoleh setelah peneliti menyinari beberapa ekor tikus dengan partikel radiasi di Space Radiation Laboratory milik NASA di News York. Berikutnya, tikus-tikus tersebut dipindahkan ke lab milik milik UCI.

Dari waktu ke waktu, tim peneliti menemukan terjadinya peradangan otak yang signifikan pada otak tikus, bahkan hingga enam bulan selepas penyinaran. Kerusakan yang dimaksud persis seperti yang terlihat pada otak manusia yang mengalami demensia dan gangguan kognitif lainnya.

Komplikasi yang dimaksud di antaranya penurunan daya ingat, ansietas atau gangguan kecemasan, depresi dan terganggunya proses pengambilan keputusan.

Baca juga: Pernah Keluar dari Orbit Bumi, Ini Bahayanya bagi Astronot

Kondisi minim gravitasi di luar angkasa juga membuat seorang astronot berisiko mengalami penurunan massa otot dan tulang. Alasannya karena kedua jaringan tersebut lama tak terstimulasi akibat gravitasi membuat semua serba ringan.

Studi melihat dalam waktu 5-11 hari seorang astronot bisa kehilangan sampai 20 persen massa ototnya dan dalam sebulan 10 persen massa tulang.

"Dalam lingkungan gravitasi mikro, karena berkurangnya rangsangan, ada peningkatan resorpsi tulang dan penurunan formasi tulang yang berujung pada hilangnya massa tulang pada tingkat sekitar 10 kali lipatnya osteoporosis," kata peneliti medis Hiroshi Ohshima, seperti dikutip dari situs resmi National Aeronautics and Space Administration (NASA).

Oleh karena itu untuk meminimalkan dampak masalah kesehatan seorang astronot harus menghabiskan banyak waktunya berolahraga. Tapi tetap ketika kembali ke bumi butuh waktu sekitar 3-4 tahun untuk mengembalikan tubuh ke kondisi semula meski tak bisa 100 persen seperti sedia kala.

Ahli imunologi NASA Brian Crucian melanjutkan kadang seorang astronot rentan juga alami masalah pada sistem imunnya. Perilaku sistem imun bernama sel T bisa berubah menjadi lebih terganggu aktivasinya.

"Hal-hal seperti radiasi, mikroba, stres, gravitasi mikro, perubahan pola tidur, dan isolasi semua dapat berdampak pada sistem imunitas kru," ungkap Crucian.

"Bila kondisi ini terjadi pada misi luar angkasa yang berlangsung lama akan ada peningkatan risiko untuk infeksi, hipersensitif atau masalah autoimun," pungkasnya.

(mrs/up)

Berita Terkait