Agar Aksi Demo Damai Tak Ganggu Kesehatan, Perhatikan Hal-hal Ini Ya!

Agar Aksi Demo Damai Tak Ganggu Kesehatan, Perhatikan Hal-hal Ini Ya!

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Jumat, 04 Nov 2016 14:38 WIB
Agar Aksi Demo Damai Tak Ganggu Kesehatan, Perhatikan Hal-hal Ini Ya!
Foto demo 4 November (Hasan Al Habshy/detikcom)
Jakarta - Aksi demo damai di kota Jakarta masih berlangsung. Massa yang datang dari berbagai penjuru Indonesia sudah bergerak dari posisi awal di Masjid Istiqlal menuju Istana Negara.

Meski cuaca nampak mendung, pakar kesehatan dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, FACP dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - RS Cipto Mangunkusumo mengatakan masih ada risiko pelaku aksi damai untuk jatuh sakit. Penyebabnya beragam, bisa karena kelelahan, pingsan atau bahkan kekambuhan penyakit kronis bawaan.

"Beberapa teman-teman saya yang dokter juga akan berada di lapangan untuk menjadi tim medis untuk mengantisipasi jatuhnya korban. Tentu kita berharap tidak ada korban tetapi tetap upaya antisipasi harus dilakukan," urai dr Ari dalam email yang diterima wartawan, dan ditulis Jumat (4/11/2016).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Ini Tips Agar Tak Terpancing Provokasi Saat Demo 4 November

Untuk itu, upaya pencegahan harus dilakukan. Bukan hanya untuk para pelaku aksi demo, namun juga para petugas kepolisian dan tentara yang berjaga-jaga.

Lalu, apa saja yang harus diantisipasi agar aksi demo damai tak menyebabkan masalah kesehatan? Dirangkum dari penjelasan dr Ari, berikut beberapa di antaranya:

Baca juga: Langkah-langkah Terhindari dari Provokasi Akibat Broadcast Hoax Saat Aksi Demo

1. Minum air

Foto: Ibnu Hariyanto/detikcom
Dijelaskan dr Ari, aksi long march dari Masjid Istiqlal ke Istana Negara dilakukan sembari berorasi. Akibatnya, para demonstran akan cepat berkeringat dan mengalami dehidrasi.

Dehidrasi dikatakan dr Ari dapat membuat massa pengunjuk rasa menjadi lebih agresif dan berisiko menimbulkan kericuhan. Oleh karena itu massa pengunjuk rasa diminta untuk tetap memenuhi kebutuhan cairannya.

"Secara normal kebutuhan cairan 8-10 gelas per hari atau sekitar 2 liter sehari. Pada saat para pengunjuk rasa terpapar panas dan berjalan kaki menyebabkan tubuh berkeringat, maka kebutuhan cairan harus ditingkatkan dan sebaiknya juga dengan cairan isotonik," ungkapnya.

2. Pusing dan letih

Foto: Suasana di Masjid Istiqlal (Andhika/detikcom)
Seseorang yang mengalami dehidrasi juga akan merasa pusing dan letih. Apalagi jika mulut terasa kering, haus dan air ludah lengket, hal ini merupakan gejala utama dehidrasi dan kelelahan.

Untuk itu, ada baiknya para pengunjuk rasa untuk beristirahat sejenak dan minum air dari perbekalan yang dibawa.

"Upaya simpatik dapat dilakukan dari kedua belah pihak, baik dari para pengunjuk rasa maupun petugas, untuk saling berbagi minuman. Minum dan tetap minum agar demonstrasi berjalan damai," pesannya.

3. Jangan lupa makan

Foto: Ahmad Ziaul/detikcom
Massa yang berkumpul di Masjid Istiqlal sedari sudah mendapat jatah sarapan dari para relawan. Ketika waktu makan siang, jangan lupa untuk istirahat sejenak dan makan dari perbekalan yang ada.

Lupa atau bahkan sengaja tidak makan malah membuat tubuh menjadi lemas. Hal ini dikarenakan tubuh kekurangan energi, yang bisa diakibatkan karena gula darah rendah akibat melewatkan makan.

"Hipoglikemi atau kekurangan gula darah bisa terjadi jika para pengunjuk rasa tidak sarapan pagi dan kondisi ini akan membuat badan terasa lemas serta kepala sempoyongan. Oleh karena itu dianjurkan untuk makan dan mengisi perut terlebih dahulu saat melakukan aksi damai turun ke jalan," imbuh dokter yang juga Wakil Ketua Pengurus Besar PAPDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia) ini.

4. Luka dan cedera

Foto: Rachman Haryanto
Aksi long march yang dilakukan dari Masjid Istiqlal menuju Istana Negara tentunya dilakukan dengan jalan kaki. Nah, perjalanan ini berisiko menimbulkan luka dan cedera pada kaki, apalagi jika pengunjuk rasa tidak menggunakan alas kaki yang baik dan tepat.

"Selain faktor minum dan makan, alas kaki juga harus diperhatikan. Sebaiknya menggunakan sepatu kets dan jangan menggunakan sandal atau sepatu pantofel yang akan mengganggu jika situasi di lapangan harus berjalan cepat atau berlari," tuturnya.

5. Daya tahan tubuh

Foto: Hasan Al Habshy
Bagi anak-anak dengan daya tahan tubuh lemah atau orang tua yang memiliki penyakit kronis sebaiknya mampu mengukur kemampuan diri saat mengikuti aksi. dr Ari menyarankan jika memang memiliki penyakit, sebaiknya tidak mengikuti aksi hingga selesai sore nanti.

"Bagi anak dan orang tua atau seseorang yang sedang sakit dianjurkan untuk tidak mengikuti aksi damai besok. Bagi masyarakat yang memang mempunyai masalah dengan pinggang atau sakit lutut atau kendala lain yang tidak memungkinkan untuk berdiri lama atau berjalan jauh sebaiknya tidak mengikuti aksi damai. Harus diantisipasi sulitnya mencari kendaraan umum sehabis berunjuk rasa," tutupnya.
Halaman 2 dari 6
Dijelaskan dr Ari, aksi long march dari Masjid Istiqlal ke Istana Negara dilakukan sembari berorasi. Akibatnya, para demonstran akan cepat berkeringat dan mengalami dehidrasi.

Dehidrasi dikatakan dr Ari dapat membuat massa pengunjuk rasa menjadi lebih agresif dan berisiko menimbulkan kericuhan. Oleh karena itu massa pengunjuk rasa diminta untuk tetap memenuhi kebutuhan cairannya.

"Secara normal kebutuhan cairan 8-10 gelas per hari atau sekitar 2 liter sehari. Pada saat para pengunjuk rasa terpapar panas dan berjalan kaki menyebabkan tubuh berkeringat, maka kebutuhan cairan harus ditingkatkan dan sebaiknya juga dengan cairan isotonik," ungkapnya.

Seseorang yang mengalami dehidrasi juga akan merasa pusing dan letih. Apalagi jika mulut terasa kering, haus dan air ludah lengket, hal ini merupakan gejala utama dehidrasi dan kelelahan.

Untuk itu, ada baiknya para pengunjuk rasa untuk beristirahat sejenak dan minum air dari perbekalan yang dibawa.

"Upaya simpatik dapat dilakukan dari kedua belah pihak, baik dari para pengunjuk rasa maupun petugas, untuk saling berbagi minuman. Minum dan tetap minum agar demonstrasi berjalan damai," pesannya.

Massa yang berkumpul di Masjid Istiqlal sedari sudah mendapat jatah sarapan dari para relawan. Ketika waktu makan siang, jangan lupa untuk istirahat sejenak dan makan dari perbekalan yang ada.

Lupa atau bahkan sengaja tidak makan malah membuat tubuh menjadi lemas. Hal ini dikarenakan tubuh kekurangan energi, yang bisa diakibatkan karena gula darah rendah akibat melewatkan makan.

"Hipoglikemi atau kekurangan gula darah bisa terjadi jika para pengunjuk rasa tidak sarapan pagi dan kondisi ini akan membuat badan terasa lemas serta kepala sempoyongan. Oleh karena itu dianjurkan untuk makan dan mengisi perut terlebih dahulu saat melakukan aksi damai turun ke jalan," imbuh dokter yang juga Wakil Ketua Pengurus Besar PAPDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia) ini.

Aksi long march yang dilakukan dari Masjid Istiqlal menuju Istana Negara tentunya dilakukan dengan jalan kaki. Nah, perjalanan ini berisiko menimbulkan luka dan cedera pada kaki, apalagi jika pengunjuk rasa tidak menggunakan alas kaki yang baik dan tepat.

"Selain faktor minum dan makan, alas kaki juga harus diperhatikan. Sebaiknya menggunakan sepatu kets dan jangan menggunakan sandal atau sepatu pantofel yang akan mengganggu jika situasi di lapangan harus berjalan cepat atau berlari," tuturnya.

Bagi anak-anak dengan daya tahan tubuh lemah atau orang tua yang memiliki penyakit kronis sebaiknya mampu mengukur kemampuan diri saat mengikuti aksi. dr Ari menyarankan jika memang memiliki penyakit, sebaiknya tidak mengikuti aksi hingga selesai sore nanti.

"Bagi anak dan orang tua atau seseorang yang sedang sakit dianjurkan untuk tidak mengikuti aksi damai besok. Bagi masyarakat yang memang mempunyai masalah dengan pinggang atau sakit lutut atau kendala lain yang tidak memungkinkan untuk berdiri lama atau berjalan jauh sebaiknya tidak mengikuti aksi damai. Harus diantisipasi sulitnya mencari kendaraan umum sehabis berunjuk rasa," tutupnya.

(mrs/up)

Berita Terkait