Meski cuaca nampak mendung, pakar kesehatan dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, FACP dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - RS Cipto Mangunkusumo mengatakan masih ada risiko pelaku aksi damai untuk jatuh sakit. Penyebabnya beragam, bisa karena kelelahan, pingsan atau bahkan kekambuhan penyakit kronis bawaan.
"Beberapa teman-teman saya yang dokter juga akan berada di lapangan untuk menjadi tim medis untuk mengantisipasi jatuhnya korban. Tentu kita berharap tidak ada korban tetapi tetap upaya antisipasi harus dilakukan," urai dr Ari dalam email yang diterima wartawan, dan ditulis Jumat (4/11/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, upaya pencegahan harus dilakukan. Bukan hanya untuk para pelaku aksi demo, namun juga para petugas kepolisian dan tentara yang berjaga-jaga.
Lalu, apa saja yang harus diantisipasi agar aksi demo damai tak menyebabkan masalah kesehatan? Dirangkum dari penjelasan dr Ari, berikut beberapa di antaranya:
Baca juga: Langkah-langkah Terhindari dari Provokasi Akibat Broadcast Hoax Saat Aksi Demo
1. Minum air
|
Foto: Ibnu Hariyanto/detikcom
|
Dehidrasi dikatakan dr Ari dapat membuat massa pengunjuk rasa menjadi lebih agresif dan berisiko menimbulkan kericuhan. Oleh karena itu massa pengunjuk rasa diminta untuk tetap memenuhi kebutuhan cairannya.
"Secara normal kebutuhan cairan 8-10 gelas per hari atau sekitar 2 liter sehari. Pada saat para pengunjuk rasa terpapar panas dan berjalan kaki menyebabkan tubuh berkeringat, maka kebutuhan cairan harus ditingkatkan dan sebaiknya juga dengan cairan isotonik," ungkapnya.
2. Pusing dan letih
|
Foto: Suasana di Masjid Istiqlal (Andhika/detikcom)
|
Untuk itu, ada baiknya para pengunjuk rasa untuk beristirahat sejenak dan minum air dari perbekalan yang dibawa.
"Upaya simpatik dapat dilakukan dari kedua belah pihak, baik dari para pengunjuk rasa maupun petugas, untuk saling berbagi minuman. Minum dan tetap minum agar demonstrasi berjalan damai," pesannya.
3. Jangan lupa makan
|
Foto: Ahmad Ziaul/detikcom
|
Lupa atau bahkan sengaja tidak makan malah membuat tubuh menjadi lemas. Hal ini dikarenakan tubuh kekurangan energi, yang bisa diakibatkan karena gula darah rendah akibat melewatkan makan.
"Hipoglikemi atau kekurangan gula darah bisa terjadi jika para pengunjuk rasa tidak sarapan pagi dan kondisi ini akan membuat badan terasa lemas serta kepala sempoyongan. Oleh karena itu dianjurkan untuk makan dan mengisi perut terlebih dahulu saat melakukan aksi damai turun ke jalan," imbuh dokter yang juga Wakil Ketua Pengurus Besar PAPDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia) ini.
4. Luka dan cedera
|
Foto: Rachman Haryanto
|
"Selain faktor minum dan makan, alas kaki juga harus diperhatikan. Sebaiknya menggunakan sepatu kets dan jangan menggunakan sandal atau sepatu pantofel yang akan mengganggu jika situasi di lapangan harus berjalan cepat atau berlari," tuturnya.
5. Daya tahan tubuh
|
Foto: Hasan Al Habshy
|
"Bagi anak dan orang tua atau seseorang yang sedang sakit dianjurkan untuk tidak mengikuti aksi damai besok. Bagi masyarakat yang memang mempunyai masalah dengan pinggang atau sakit lutut atau kendala lain yang tidak memungkinkan untuk berdiri lama atau berjalan jauh sebaiknya tidak mengikuti aksi damai. Harus diantisipasi sulitnya mencari kendaraan umum sehabis berunjuk rasa," tutupnya.
Halaman 2 dari 6











































