detikhealth

Konsultasi Laktasi
dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC

Dokter Laktasi dan Ibu Menyusui di RS Permata Depok
Ketua Tim Laktasi RS Permata Depok
Koordinator Pelatihan Manajemen Laktasi Perinasia Pusat

Anak Terlihat Ringkih, Apakah Akibat Tak Diberi ASI dari Lahir?

Suherni Sulaeman - detikHealth
Jumat, 23/12/2016 14:02 WIB
Anak Terlihat Ringkih, Apakah Akibat Tak Diberi ASI dari Lahir?Foto: Thinkstock
Jakarta, Dear Ibu Dokter. Saya mau tanya Dokter, anak saya laki-laki dari lahir tidak mendapat ASI karena ASI tidak keluar dan ibunya tidak mau usaha. Jadi selama ini dikasih minum susu formula.

Sekarang anak saya usia 5 tahun tapi sampai sekarang susah makan apalagi makan nasi. Padahal banyak makanan enak pun juga tidak mau dan tubuhnya kelihatan kurang kuat/kokoh seperti anak-anak kebanyakan. Menurut saya sih. Dan juga mudah sakit.

Apa ini akibat tidak mendapat ASI ya Dokter? Ibunya sama neneknya suka manjain anak saya. Saya sendiri sih kurang suka anak dimanja berlebihan, kemana-kemana harus pakai jaket karena kedinginan (sama ibunya).

Yang mau saya tanyakan apakah anak tanpa ASI bisa sehat seperti anak pada umumnya dan berumur panjang? Ada solusi biar anak suka makan (nasi)? Untuk sementara itu dulu Bu Dokter. Terimakasih atas perhatiannya.

Herry (Pria, 34 tahun)

Jawaban

Dear Bapak Herry,

Untuk pemberian asupan bayi usia 0-6 bulan, memang dianjurkan memberikan ASI eksklusif, yaitu pemberian ASI saja tanpa tambahan apapun selain ASI, termasuk susu formula. Setelah 6 bulan, anak idealnya mulai diberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) sesuai WHO, sambil terus melanjutkan menyusui sampai 2 tahun. Pemberian susu formula tanpa indikasi yang tepat akan menimbulkan banyak sekali kerugian bagi anak maupun ibu.

Ketika Bapak memberi susu formula pada bayi Bapak, Bapak meningkatkan peluang bayi mengalami alergi, asma, infeksi telinga, infeksi pernapasan, gangguan pencernaan, gangguan jantung dan pembuluh darah, obesitas, diabetes, anemia defisiensi besi, kanker anak, gangguan tidur, kematian bayi mendadak, masalah gigi dan maloklusi, gangguan perilaku, IQ dan perkembangan kognitif yang lebih rendah, autisme, serta paparan kontaminan lingkungan.

Ketika seorang Ibu tidak menyusui, maka sang Ibu makin berpeluang untuk mengalami diabetes, obesitas, hipertensi, penyakit jantung dan pembuluh darah, osteoporosis, kanker payudara/ indung telur/ rahim, dan Alzheimer. Semua yang telah disebutkan telah dibuktikan melalui penelitian yang diakui di dunia oleh orang-orang yang ahli di bidangnya.

Selain bahaya dari susu formula itu sendiri, biasanya pemberian susu formula pada bayi identik sekali dengan penggunaan dot yang ternyata juga memiliki efek jangka panjang yang beragam. Dot sangatlah rentan kontaminasi karena karetnya yang merupakan media tumbuh kuman yang sangat baik dan karena banyaknya zat merugikan hasil reaksi plastik yang dipanaskan setiap hari, yang semakin lama semakin banyak terakumulasi dalam tubuh bayi, sehingga menurunkan daya tahan tubuh bayi dan bayi menjadi sangat rentan terkena penyakit infeksi.

Dot juga dapat menimbulkan masalah gigi dan maloklusi rahang, serta jauh lebih tinggi risiko tersedak dibandingkan pemberian dengan media gelas atau sendok. Anak yang terlanjur mengenal dot juga akan sulit sekali disapih dari dot saat sudah beranjak besar, sehingga akan mempengaruhi sisi psikologis anak tersebut bila tidak berhasil dipisahkan dari dot saat berusia 2 tahun, terlebih lagi jika sampai melewati batas 3 tahun. Hal tersebut akan mempengaruhi kemandirian sang anak di masa depan dan juga dalam hal mengambil keputusan.

Semoga penjelasan di atas dapat memberikan gambaran kepada Bapak mengenai penyebab kondisi kesehatan anak Bapak saat ini, yang menurut Bapak tergolong kurang kuat dan mudah sakit. Selain itu, tidak terpenuhinya ASI dan pemberian susu formula dengan dot juga berpengaruh terhadap psikologis dan kemandiriannya, sehingga sekarang Bapak merasakan anak Bapak terkesan manja, walaupun dalam hal ini pola asuh orang tua dan orang-orang dekat di sekitarnya juga ikut mempengaruhi.

Untuk masalah pola makan anak Bapak saat ini, biasanya itu sudah dimulai ketika dia memulai MPASI. Awal yang baik dan benar dalam pemberian MPASI sangat mempengaruhi pola makan anak sampai dewasa kelak, mencakup keteraturan jadwal makan, suasana makan yang menyenangkan, variasi makanan, dan sebagainya. Terlebih untuk anak-anak yang diberikan susu formula, kita juga perlu memperhatikan kecukupan gizi dari makanan yang seimbang, yang saat ini dikenal dengan menu 4 bintang (karbohidrat, protein hewani dan nabati, buah dan sayur, serta air putih dan mineral lainnya). Seringkali anak yang mengonsumsi susu formula berlebihan, sudah merasa kenyang dengan minum susu saja, sehingga dia sudah tidak memiliki nafsu dan ruang untuk makanan lainnya.

Bila memang hal itu yang terjadi, kami anjurkan untuk menghentikan pemberian susu formula agar pola makan anak dapat diatur kembai dengan baik. Bila memang ingin memberikan susu (sebagai salah satu asupan protein hewani), maka dapat diberikan susu segar dalam batas tertentu, yaitu maksimal 250cc sehari.

Untuk masalah ketertarikan anak pada nasi, memang berbeda-beda setiap anak. Bisa dimulai dengan membuat variasi yang menarik dengan nasi, misal nasi diberi pewarna makanan alami atau menu nasi si kecil dibuat bento yang menarik. Yang perlu diingat adalah bahwa karbohidrat bukanlah hanya nasi, tapi masih banyak karbohidrat lainnya yang dapat diberikan kepada anak dan keluarga, diantaranya roti, kentang, mie, pasta, jagung, dan lain-lain.

Untuk masalah umur, Bapak janganlah berkecil hati karena umur seseorang tidaklah ada yang tahu, kecuali Yang Maha Kuasa. Yang terpenting adalah Bapak masih bisa selalu mengusahakan yang terbaik untuk kesehatan anak Bapak, diantaranya dengan memberikan makanan yang sehat dan bergizi, rutin periksa kesehatan dan imunisasi, serta pola asuh yang baik dan penuh kasih sayang. Untuk itu, Bapak bisa berkonsultasi dengan dokter anak, ahli gizi, psikolog, ataupun ahli parenting. Istri bapak juga kami sarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin karena sempat tidak menyusui, sehingga kesehatannya dapat lebih terjaga.

Namun bila Bapak dan istri merencanakan akan memiliki anak lagi, bapak dapat berkonsultasi ke Klinik Laktasi untuk persiapan menyusui dan MPASI yang tepat untuk buah hati Bapak, agar anak Bapak bisa mendapatkan yang terbaik sejak hari pertamanya di dunia ini.

dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC
Dokter Laktasi dan Ibu Menyusui di RS Permata Depok
Ketua Tim Laktasi RS Permata Depok
Koordinator Pelatihan Manajemen Laktasi Perinasia Pusat
www.rspermatadepok.com(hrn/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit