detikhealth

Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan
Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi

Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/

Istri yang Ingin Bercerai karena Suami Tak Mau Beri Nafkah

Suherni Sulaeman - detikHealth
Selasa, 10/01/2017 14:04 WIB
Istri yang Ingin Bercerai karena Suami Tak Mau Beri NafkahFoto: thinkstock
Jakarta, Suami dan saya sudah berpisah, dan sejak 5 tahun terakhir suami tidak pernah memberikan saya nafkah karena memang suami tidak bekerja. Tadinya saya menerima dengan lapang dada selama 4 tahun belakangan, karena saya punya penghasilan.

Empat bulan terakhir ini suami bekerja, namun tetap tidak mau/tidak bisa memberikan nafkahnya buat saya dan anak saya, sampai akhirnya kami harus berpisah.

Saya minta diceraikan, tapi suami menolak dan mengancam kalau tetap mau cerai, anak saya akan diambil. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi, karena pernikahan ini menurut saya sudah tidak bisa diperbaiki.

A (Wanita, 41 tahun)

Jawaban

Dear Ibu A,

Menjadi seorang ibu dan menjadi tulang punggung keluarga sementara suami tidak bekerja bukanlah sesuatu yang mudah. Setelah 5 tahun menjalani ini, saya percaya Anda adalah orang yang kuat dan bisa menghadapi masalah yang terjadi dalam hidup Anda, meskipun itu tidak mudah.

Kondisi suami tidak memberi nafkah dalam pernikahan memang kerap menyebabkan adanya pemikiran untuk bercerai. Namun, biasanya alasan finansial tidak menjadi alasan tunggal dari keputusan tersebut. Ada banyak hal lain yang biasanya berperan, misalnya, meskipun tidak bekerja suami juga tidak membantu dalam urusan rumah tangga, tidak ada usaha untuk mencari pekerjaan, tidak bisa berkomunikasi, dsb yang tentu saja bisa berbeda-beda setiap orangnya.

Mengapa mengetahui alasan Anda untuk bercerai menjadi penting? Pertama, secara hukum ketika mengajukan perceraian, Anda tetap dapat mengajukan perceraian meskipun suami Anda keberatan. Anda akan diminta untuk menuliskan alasan-alasan yang mendasari pengajuan perceraian yang dapat diterima oleh pengadilan. Mengenai hal ini, sebaiknya didiskusikan dengan pihak yang memang kompeten di bidang ini, seperti pengacara atau bertanya ke situs hukum berbasis online.

Kedua, memastikan bahwa perceraian merupakan upaya terakhir yang dapat dilakukan. Mengapa? Karena perceraian tidak selalu menjadi jalan terbaik untuk membebaskan permasalahan, dan biasanya akan selalu muncul masalah baru jika alasan tidak dikenali dan diselesaikan dengan baik meskipun perceraian terjadi. Dalam kondisi perceraian yang sebenarnya tidak disepakati oleh kedua belah pihak tentu saja akan menjadi lebih sulit dan banyak potensi konflik yang bisa terjadi, terutama perebutan hak asuh yang dapat mempengaruhi psikologis anak.

Ketiga, dengan mengenali penyebab perceraian Anda di balik masalah finansial tersebut, dapat menjadi pembelajaran bagi Anda dalam hubungan selanjutnya. Tidak jarang permasalahan pada perkawinan sebelumnya kembali terjadi pada perkawinan yang baru, karena adanya pola berulang yang tidak disadari. Anda tentunya tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali, bukan?

Dalam proses pengajuan perceraian, biasanya akan ada rekomendasi untuk melakukan mediasi. Mediasi disini tidak selalu berarti Anda harus rujuk, melainkan memfasilitasi kedua belah pihak untuk menyampaikan pendapatnya. Hasilnya, bisa menyepakati ada hal-hal yang mau diperbaiki, atau bisa sepakat untuk bercerai, atau bisa juga sepakat untuk tidak sepakat. Apapun hasilnya, proses dilakukan untuk meyakinkan bahwa proses ini yang sebenarnya ingin dijalani dengan segala konsekuensinya.

Hal yang bisa Anda lakukan adalah mencari mediator keluarga yang netral dan cukup didengarkan oleh pasangan. Atau bisa juga Anda berdua konsultasi ke psikolog perkawinan dan keluarga. Tidak jarang pasangan yang hendak mengajukan proses perceraian juga melakukan konseling perkawinan. Dalam proses konseling, biasanya muncul alternatif-alternatif solusi lain yang belum terpikirkan untuk dilakukan karena sebelumnya ada hal-hal yang juga belum bisa terkomunikasikan. Kebanyakan proses konseling yang dilakukan bisa meminimalisir potensi konflik yang akan terjadi, kalaupun perceraian merupakan sesuatu yang tidak terelakkan.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/(hrn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit