detikhealth

Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan
Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi

Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/

Saat Harus Memilih Antara Ibu atau Istri

Suherni Sulaeman - detikHealth
Rabu, 01/02/2017 17:46 WIB
Saat Harus Memilih Antara Ibu atau IstriFoto: Thinkstock
Jakarta, Saya menikah Februari 2016 melalui perjodohan karena usia saya yang memang tidak muda lagi. Setelah pesta pernikahan, istri tinggal bersama saya dan ibu saya. Tidak lama istri saya hamil, sayang calon bayi kami keburu meninggal sebelum dilahirkan. Katanya ini karena istri saya yang terlalu kurus sehingga tidak siap untuk hamil.

Istri lalu minta izin menenangkan diri di rumah keluarganya yang jaraknya memang jauh dari rumah yang selama ini kami tempati.

Setelah itu, istri tidak mau kembali ke rumah. Alasannya karena ketidakcocokan dengan ibu saya. Saya akui ibu memang cukup cerewet. Sedangkan istri saya orangnya keras dan tidak mau diatur. Istri mau kembali hidup bersama saya jika kami tinggal terpisah dari ibu saya.

Permintaan ini berat, Mbak. Sebab ibu adalah satu-satunya orang tua yang saya miliki. Kakak saya semua perempuan dan tinggal jauh di luar Jakarta mengikuti suaminya. Karena itu selama ini sayalah yang mengurus ibu.

Sementara ibu juga sudah berkata kalau saya lebih memilih istri saya, maka saya tidak boleh datang lagi ke rumahnya. Ibu bahkan meminta saya mengirimkan baju-baju istri yang masih tertinggal di lemari.

Meski awalnya ibu menyetujui perjodohan yang digagas oleh kakak saya, tapi sekarang ibu jadi sama sekali tidak suka dengan istri saya. Tidak cuma itu, keluarga besar juga tidak suka dengan istri. Alasannya karena selain sikap keras istri, tidak bisa memberikan keturunan, juga diketahui ada pembohongan asal-usul.

Saya sudah berusaha memberi penjelasan pada istri saya, tapi dia selalu bilang: pilih aku atau ibu kamu. Hal yang sama juga disampaikan ibu saya. Saya bingung Mbak harus bagaimana. Salahkah saya jika akhirnya saya memilih ibu saya dengan konsekuensi dikatakan sebagai suami yang tidak bertanggung jawab?

J (Pria, 40 tahun)

Jawaban

Dear Pak J,

Cerita yang Anda sampaikan merupakan masalah segitiga klasik, di mana Anda terjebak dalam situasi untuk menjadi 'anak baik' dan 'suami yang baik' dan akhirnya Anda kebingungan bagaimana untuk menjalankan keduanya. Berada di tengah-tengah dua orang yang berkonflik, bukanlah situasi yang baik untuk kesehatan mental Anda maupun mereka.

Sebagai awal, Anda perlu menjelaskan kepada istri dan Ibu bahwa Anda mencintai mereka berdua. Bicarakan berdua dengan pasangan dan bahas permasalahan yang ada. Jelaskan bahwa Anda bisa mengerti jika ada hal-hal yang Ibu lakukan yang membuat ia tidak nyaman untuk berada di dalam satu rumah. Namun, bahas juga jika ada perilaku istri yang tidak Anda setujui untuk dilakukan, terutama yang terkait dengan Ibu. Bahas juga mengenai kekecewaan keluarga besar akan adanya 'pembohongan asal usul' sekaligus minta klarifikasi pasangan terhadap hal tersebut. Di akhir, meskipun ia tidak menyukai ibu Anda, namun sebagai pasangan, sudah merupakan tanggung jawab ia pula untuk bersikap sopan dan mengakomodasi keluarga.

Buat kesepakatan juga bagaimana Anda dan pasangan menetapkan batasan-batasan sejauh mana ibu dapat terlibat di dalam urusan rumah tangga. Bagaimanapun, Anda dan pasangan tetap perlu batasan kemandirian untuk membentuk sebuah rumah tangga meskipun ada ibu di dalam rumah yang sama. Bisa saja hal tersebut juga yang menjadi salah satu faktor ketidakinginan istri berada di dalam satu rumah dengan ibu mertuanya.

Sementara, bicarakan juga berdua dengan ibu Anda. Jelaskan bahwa Anda bisa mengerti ada kekecewaan ibu terhadap menantunya. Sampaikan juga bahwa Anda ingin menjalin rumah tangga dan menjadi suami yang bertanggung jawab, tanpa mengabaikan tanggung jawab Anda sebagai anak.

Rasa sayang yang tulus tidak akan menuntut orang lain untuk memilih antara orang yang sama-sama Anda cintai. Meskipun hal ini yang dilakukan oleh Ibu dan pasangan, Anda tidak perlu melakukan hal yang sama. Pada akhirnya, semua kembali kepada Anda.

Meskipun Anda berdua dijodohkan, tetapi keputusan untuk akhirnya menikah adalah keputusan Anda berdua. Jika Anda ingin menjadi pasangan yang bertanggung jawab, maka pastikan bahwa pernikahan mesti berakhir karena Anda dan pasangan sudah mencoba semua alternatif yang dapat dilakukan. Jangan akhiri hubungan karena ibu Anda, karena biasanya, pola seperti ini akan terus berulang dengan siapapun Anda berhubungan nantinya.

Terjebak dalam situasi seperti ini bisa membuat orang berada dalam kondisi 'psychologically paralized', di mana adrenalin dan kortisol membanjiri tubuh dan akhirnya yang terjadi adalah tidak melakukan apapun untuk menyelesaikan permasalahan. Jika ini sudah terjadi, Jika masalah ini sangat mengganggu Anda, sebaiknya konsultasikan kepada profesional. Sehingga Anda juga bisa lebih tenang dalam menjalankan alternatif solusi yang bisa dilakukan.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/(hrn/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close