Pentingnya Cukai Rokok Bagi Kampanye Pengendalian Tembakau

Pentingnya Cukai Rokok Bagi Kampanye Pengendalian Tembakau

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Jumat, 10 Mar 2017 16:02 WIB
Pentingnya Cukai Rokok Bagi Kampanye Pengendalian Tembakau
Foto: (Thinkstock)
Jakarta - Adanya cukai pada rokok membuat harga jual rokok menjadi lebih mahal. Efek mahalnya harga rokok ini bukan untuk menambah pendapatan negara, namun merupakan salah satu strategi dari kampanye pengendalian tembakau.

Sakri Sab'atmaja, Kepala Sub Direktorat Advokasi dan Kemitraan Promkes Kemenkes RI, mengatakan kenaikan cukai rokok merupakan salah satu bentuk pengendalian tembakau yang cukup populer dilakukan di negara-negara dunia. Tujuannya satu, mencegah anak usia sekolah dan remaja membeli rokok.

"Kalau yang sudah merokok, memang sebaiknya tobat tapi kita tidak ke sana menyasarnya. Kenaikan cukai rokok lebih untuk mencegah supaya tidak ada perokok baru dan perokok pemula," tutur Sakri dalam sesi kelas jurnalisme AJI dan Danone di Gedung Cyber 2, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (10/3/2017).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sakri mengatakan sekitar 22 persen remaja usia sekolah sudah pernah merokok. Bahkan 11,6 persen lainnya masih merokok secara aktif. Padahal ketika sudah merokok, risiko kecanduannya bisa hingga 40 tahun.

Ia juga menyinggung soal klaim cukai rokok sebagai penyumbang terbesar negara. Berdasarkan data yang dimiliki Kementerian Keuangan, pendapatan cukai rokok pada tahun 2016 hanya sebesar Rp138 triliun. Di sisi lain, biaya yang dikeluarkan untuk mengobati masalah kesehatan akibat rokok bisa mencapai Rp378 triliun.

"Biaya dampaknya ini yang jauh lebih besar. Merokok sudah dibuktikan bisa menyebabkan masalah jantung, pembuluh darah, stroke dan paru-paru. Berobatnya pun mahal," tuturnya lagi.

Sebuah penelitian menarik pernah dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada. Masyarakat mampu membeli rokok namun malah menunggak pembayaran iuran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Secara teori biaya untuk kesehatan seharusnya sekitar lima persen dari total belanja rumah tangga di luar makanan pokok. Survei 1.800 responden kepala keluarga di 12 provinsi Indonesia lalu melihat rata-rata warga hanya mampu membayar Rp 16.571.

Baca juga: WHO: Naikkan Cukai Rokok Cara Efektif Kurangi Jumlah Perokok

"Menariknya ternyata setelah dikroscek dengan data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional), masyarakat yang sama mampu membuat pengeluaran untuk rokok per bulan sampai Rp 30.981," kata dr Dwi Martiningsih, Mkes, AAK, dari Grup Penelitian dan Pengembangan BPJS Kesehatan mengomentari studi.

"Ini artinya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan diri masih rendah. Karena dia mengeluarkan uang untuk kesehatan dirinya masih berat tapi malah membuat pengeluaran untuk hal yang sebenarnya menyakiti dirinya," lanjut dr Dwi ketika ditemui beberapa waktu lalu.

Bila memang banyak yang mampu membeli rokok, seharusnya mereka juga mampu untuk membayar iuran BPJS. Terlebih lagi beban pengeluaran BPJS kesehatan juga sebetulnya banyak yang tersedot untuk membiayai penyakit yang berhubungan dengan rokok. (mrs/up)

Berita Terkait