detikhealth

Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan
Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi

Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/

Suami yang Merasa Kecewa karena Dikhianati Istri

Suherni Sulaeman - detikHealth
Rabu, 29/03/2017 17:12 WIB
Suami yang Merasa Kecewa karena Dikhianati IstriFoto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta, Saya seorang suami berusia 39 tahun. Saya sudah sepuluh tahun menikah dan dikaruniai dua orang anak. Selama ini saya merasa pernikahan kami dalam keadaan sangat baik, normal dan bahagia. Bisa dibilang tidak ada masalah yang berarti dalam pernikahan kami dan saya sangat mencintai istri saya.

Namun, ternyata istri saya kedapatan selingkuh sekitar tiga bulan lalu, saya ada firasat kurang enak dan membaca handphonenya, ternyata istri saya kedapatan sedang berkirim pesan ke orang lain yang juga sebenarnya saya cukup kenal.

Ada kalimat yang ditulis istri saya yang sangat tidak pantas untuk diucapkan. Perasaan saya seketika hancur lebur dan merasa semua ini berakhir. Istri saya mengakui kesalahannya dan meminta maaf, tapi menurut dia baru berhubungan selama 2-3 minggu dan hanya sebatas pertemanan saja, hanya sekadar kirim pesan dan bertemu dua kali di kafe, tidak ada yang terjadi lebih dari itu. Tapi sulit bagi saya untuk memercayainya. Saya lalu pergi dari rumah beberapa hari.

Setelah beberapa waktu saya akhirnya pulang dan mencoba untuk memaafkan istri saya, utamanya karena saya kasian sama anak-anak. Selama ini istri saya kelihatan sangat menyesal telah melakukan perselingkuhan itu dan menjadi lebih perhatian ke saya. Saya juga mencoba introspeksi diri apakah ada kekurangan dalam saya selama ini.

Namun sangat berat ternyata untuk dapat benar-benar melupakan trauma perselingkuhan itu, karena selama ini saya sudah janji untuk setia sejak awal, beberapa kali saya sebenarnya mempunyai kesempatan untuk selingkuh sebelum istri saya ketauan selingkuh, tapi yang saya ingat selalu anak dan istri saya dan janji saya untuk setia. Padahal lingkungan saya banyak sekali yang punya istri muda atau selingkuhan, atau sekadar pijat ke spa plus-plus.

Saya merasa sangat terpukul karena selama ini hidup saya untuk anak dan istri saya, tidak ada yang lain. Sekarang saya seperti kehilangan gairah untuk bekerja, seolah tidak ada tujuan lagi karena istri yang telah berkhianat, dan takut ke depan nanti berkhianat lagi. Kadang saya kepikiran untuk membalas selingkuh juga atau bahkan berpisah dan menikah lagi dengan orang lain, tapi sepertinya percuma karena luka trauma itu akan tetap ada, sangat sakit rasanya dikhianati istri yang saya cintai. Kira-kira saya harus bagaimana ya Mbak?

A (Laki-laki, 39 tahun)

Jawaban

Dear Bapak A,

Luka yang ditimbulkan akibat perselingkuhan memang merupakan salah satu luka yang bisa meninggalkan luka yang dalam, namun bukan berarti tidak bisa dipulihkan. Perceraian ataupun membalas perselingkuhan pasangan, memang biasanya terpikirkan ketika luka masih basah dan rasa sakit tidak terhindarkan. Masalahnya adalah, siapa yang bisa menjamin bahwa membalas atau bercerai adalah cara untuk memulihkan luka?

Pada banyak kejadian yang ditemui di ruang konseling, tidak jarang para Psikolog ditemui oleh orang-orang yang sudah lama bercerai namun masih memiliki trauma terhadap perselingkuhan dari hubungan sebelumnya. Sehingga, masalah yang perlu digarisbawahi bukanlah mengakhiri pernikahan atau membalas pasanganan, namun, mampukah Anda memulihkan diri dari luka tersebut apapun bentuk hubungan pernikahan Anda nantinya.

Menurut Anda, Apabila Anda terus terbayang dan ketakutan perselingkuhan akan kembali terjadi, hubungan Perkawinan Anda semakin membaik atau menjadi lebih bermasalah? Kecurigaan, kekhawatiran perselingkuhan kembali terjadi terkadang membuat korban menjadi sulit untuk melihat bahwa pelaku juga berusaha untuk berubah dan akhirnya memperburuk situasi yang ada. Kualitas pengasuhan sebagai seorang ayah juga dapat terpengaruh. Pada banyak orang, pekerjaan dan kualitas hidup juga memburuk. Oleh karena itu Anda perlu memulihkan diri dari trauma Anda dan kembali menjadi seorang laki-laki, suami, dan ayah yang baik.

Untuk memperbaiki, tentu saja dimulai dari Anda mengakui bahwa perselingkuhan tersebut memang terjadi dan luka yang Anda rasakan itu nyata. Di sisi lain, Anda juga melihat bahwa pasangan menyesal dan berusaha memperbaiki hubungan dengan Anda. Rasa sakit dan curiga memang tidak akan bisa hilang dengan cepat. Setelah itu, tentu saja Anda berdua perlu memulai bicara dari hati ke hati. Luka yang ada perlu dibicarakan kembali dengan pikiran yang lebih terbuka, yang bisa dimulai dengan berhenti untuk mencari siapa yang bersalah, baik diri pasangan maupun diri sendiri.

Pernikahan yang dirasakan baik-baik saja bagi satu orang, belum tentu dirasakan sama oleh orang lainnya. Peristiwa perselingkuhan, meskipun menyakitkan, bisa menjadi awal bagi Anda berdua untuk sama-sama melakukan introspeksi dan memperbaiki diri. Apa yang baik-baik untuk kita, belum tentu baik-baik saja menurut pasangan kita. Untuk itu, penting sekali untuk menyepakati hal apa saja yang perlu diperbaiki, dan bagaimana perbaikan itu bisa dilakukan.

Semakin dalam dan besar lukanya, semakin lama pula proses penyembuhannya dan menjadi semakin penting untuk dipulihkan. Luka seperti ini tidak dapat diobati secara 'instan'. Sebaliknya, berikan waktu untuk diri Anda dan perkawinan ini agar dapat sembuh sepenuhnya. Jika bicara dalam kondisi tenang dan damai dengan pasangan, cari bantuan dari pihak lain yang bisa bersikap netral dan Anda percayai. Anda bisa minta bantuan kepada pemuka agama, anggota keluarga yang dituakan, konselor perkawinan atau psikolog.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/(hrn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close