Jakarta -
Anak dengan autisme mengalami masalah koneksi dan organisasi sel-sel saraf dan sinaps-sinapsnya. Inilah yang menyebabkan mereka mengalami gangguan pengolahan informasi di otak. Nah, apa saja gejala autisme pada anak?
Dijelaskan dr Kresno Mulyadi, SpKJ, ada lima garis besar gejala gangguan spektrum autisme, yaitu:
Baca juga: Benarkah Autisme Bisa Disembuhkan?
1. Gangguan komunikasi
Foto: Thikstock
|
"Jadi mengucapkan bukan untuk komunikasi. Kualitas komunikasi juga tidak optimal," terang dr Kresno dalam seminar terkait Hari Autisme Sedunia di RS Budi Kemuliaan, Jl RS Budi Kemuliaan, Jakarta Pusat, Sabtu (1/4/2017).
"Autisme bukan speech delay, tapi lebih ke communication delay," imbuhnya.
2. Ganguan sosialisasi
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
Anak dengan autisme biasanya suka menyendiri, tidak ada upaya berinteraksi dengan orang lain, sehingga terkesan cuek.
"Pada autisme, anak ada yang hiperaktif, tapi ada juga yang hipoaktif," lanjut dr Kresno.
3. Gangguan perilaku
Foto: Thinkstock
|
Anak dengan autisme memiliki repetitif disorder, di mana mereka sering terlihat melakukan perilaku berulang. Selain itu mereka sering terpaku pada hal-hal tertentu.
"Misalnya saja, mereka bisa nonton film yang sama seharian. Diputar-putar terus," sambung saudara kembar pemerhati anak Seto Mulyadi ini.
4. Gangguan emosi
Foto: Thinkstock
|
Anak dengan autisme kurang mampu berempati. Selain itu mereka mudah marah, mudah takut dan mudah tertawa sampai tergelak.
"Ada labilitas emosi pada anak dengan autisme," ucap dr Kresno.
5. Gangguan persepsi sensorik
Foto: Thinkstock
|
Gangguan persepsi sensorik bisa membuat anak dengan autisme menutup telinga saat ada suara tertentu. Padahal bagi anak-anak yang lain, suara tersebut biasa saja atau tidak mengganggu.
Tak cuma suara, terkadang mereka juga menghindari pemandangan tertentu. "Bisa saja ada hal yang secara visual dianggap lucu oleh orang lain, tapi buat anak dengan autisme malah menakutkan," ujar dr Kresno.
Baca juga: Tahukah Anda? Zaman Dulu, Autisme Disangka Gangguan Jiwa Anak
"Jadi mengucapkan bukan untuk komunikasi. Kualitas komunikasi juga tidak optimal," terang dr Kresno dalam seminar terkait Hari Autisme Sedunia di RS Budi Kemuliaan, Jl RS Budi Kemuliaan, Jakarta Pusat, Sabtu (1/4/2017).
"Autisme bukan speech delay, tapi lebih ke communication delay," imbuhnya.
Anak dengan autisme biasanya suka menyendiri, tidak ada upaya berinteraksi dengan orang lain, sehingga terkesan cuek.
"Pada autisme, anak ada yang hiperaktif, tapi ada juga yang hipoaktif," lanjut dr Kresno.
Anak dengan autisme memiliki repetitif disorder, di mana mereka sering terlihat melakukan perilaku berulang. Selain itu mereka sering terpaku pada hal-hal tertentu.
"Misalnya saja, mereka bisa nonton film yang sama seharian. Diputar-putar terus," sambung saudara kembar pemerhati anak Seto Mulyadi ini.
Anak dengan autisme kurang mampu berempati. Selain itu mereka mudah marah, mudah takut dan mudah tertawa sampai tergelak.
"Ada labilitas emosi pada anak dengan autisme," ucap dr Kresno.
Gangguan persepsi sensorik bisa membuat anak dengan autisme menutup telinga saat ada suara tertentu. Padahal bagi anak-anak yang lain, suara tersebut biasa saja atau tidak mengganggu.
Tak cuma suara, terkadang mereka juga menghindari pemandangan tertentu. "Bisa saja ada hal yang secara visual dianggap lucu oleh orang lain, tapi buat anak dengan autisme malah menakutkan," ujar dr Kresno.
Baca juga: Tahukah Anda? Zaman Dulu, Autisme Disangka Gangguan Jiwa Anak
(vit/vit)