detikhealth

Dua Studi Sebut Antidepresan Saat Hamil Tak Picu Risiko Autisme Anak

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Jumat, 21/04/2017 16:17 WIB
Dua Studi Sebut Antidepresan Saat Hamil Tak Picu Risiko Autisme AnakFoto: thinkstock
Jakarta, Bagi pasien depresi, mengonsumsi obat merupakan suatu kewajiban agar kondisi mereka tetap terkontrol. Namun persoalan muncul ketika pasien kemudian tengah berbadan dua. Apakah masih perlu dilanjutkan?

Hal ini karena beberapa studi menunjukkan konsumsi antidepresan dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan perkembangan seperti ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) dan autisme.

Di sisi lain, depresi yang tidak tertangani sepanjang kehamilan juga membahayakan si ibu maupun buah hatinya, sebab si ibu menjadi lebih rentan terkena postpartum depression (depresi pasca melahirkan), sedangkan bayinya cenderung lahir prematur atau memiliki berat lahir yang rendah.

Kendati demikian, ada juga penelitian yang mengatakan obat ini aman-aman saja dikonsumsi. Dua penelitian yang dipublikasikan JAMA menyepakati bahwa konsumsi antidepresan selama masa kehamilan tidak begitu berdampak terhadap kesehatan sang buah hati, khususnya memunculkan risiko autisme.

Studi pertama dari Kanada melibatkan 36.000 anak yang 2.800 di antaranya terpapar antidepresan saat dalam kandungan. Tetapi hanya 2 persen saja yang terbukti kemudian didiagnosis dengan autisme.

Studi lain dari Swedia juga melakukan evaluasi serupa pada lebih dari 1,5 juta anak, di mana peneliti membandingkan anak yang terpapar antidepresan dalam kandungan dengan saudara-saudaranya yang tidak terpapar obat yang sama.

Mereka juga membandingkan bayi dari ibu yang berhenti mengonsumsi antidepresan sebelum hamil dengan ibu yang masih menggunakannya selama kehamilan maupun yang memang tidak pernah mengonsumsi obat semacam ini.

Baca juga: Studi: Konsumsi Antidepresan Saat Hamil Tingkatkan Risiko Anak Depresi

"Kalaupun kemudian terjadi autisme, ini tidak mungkin karena paparan obat selama kehamilan, tetapi lebih kepada faktor yang menyebabkan si orang tua terserang depresi kemudian menggunakan obat itu, atau dengan kata lain adanya faktor gen yang memicu adanya gangguan jiwa," ungkap peneliti dari studi kedua, Brian D'Onofrio dari Indiana University Bloomington seperti dilaporkan Time.

Dr Simon Vigod dari Women's College Hospital, Toronto sebagai peneliti studi pertama menimpali, kekhawatiran muncul karena obat-obatan tersebut dapat menembus plasenta dan masuk ke dalam otak janin, sehingga ada kemungkinan berdampak pada perkembangannya kelak.

"Padahal genetik memainkan peranan yang lebih besar dalam menentukan risiko autisme. Jadi kalau ada anak yang lahir dari ibu yang minum antidepresan, risiko mereka jadi lebih tinggi hanya karena kecenderungan genetik mereka, bukan karena obatnya," tegas Vigod.

Vigod dan D'Onofio juga mengingatkan bahwa wanita yang terserang depresi lebih cenderung memperlihatkan perilaku yang dapat mengganggu kehamilannya seperti merokok, minum alkohol, makan makanan tak bergizi atau kurang tidur.

Untuk itu yang terpenting adalah bagi ibu hamil yang mengalami depresi, mereka sebaiknya rutin menjalani pemeriksaan, baik untuk memantau depresinya maupun kehamilannya.

"Alih-alih minum obat, mungkin mereka bisa diarahkan untuk menerima psikoterapi saja," saran D'Onofrio.

Baca juga: 5 Langkah Mencegah Kejanggalan pada Otak Anak (lll/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close